Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Kutai Barat per 5 November 2026, tercatat 225 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak 7.483,38 hektare. Sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL), baik pada lahan mineral maupun gambut.
Dari jumlah kejadian, Kecamatan Barong Tongkok mencatat angka tertinggi dengan 74 kejadian, disusul Kecamatan Damai sebanyak 59 kejadian. Sementara berdasarkan luas area terbakar, Kecamatan Jempang menjadi wilayah terdampak terbesar dengan luasan mencapai 5.392,43 hektare.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kubar, Bambang Pramudito, menjelaskan kebakaran di sejumlah wilayah dipengaruhi karakteristik vegetasi dan material lahan yang berbeda. Selain gambut, api juga membakar tanaman penutup tanah di perkebunan kelapa sawit serta rumput dan sisa pelapukan dedaunan di kawasan rawa dan danau.
“Rata-rata material yang terbakar di wilayah Kutai Barat itu ada gambut. Kalau di wilayah sawit atau perkebunan ada cover crop, kacang-kacangan yang terbakar. Kemudian di danau ada rumput-rumputan dan sisa pelapukan dari dedaunan. Itu yang membuat asap menjadi tebal,” ujar Bambang kepada Korankaltim.com, Minggu (8/11/2026).
Salah satu wilayah yang menghadapi kendala akses pemadaman berada di Muara Ohong. Kawasan rawa dengan kondisi tanah basah membuat petugas kesulitan menjangkau sejumlah titik kebakaran.
“Yang terbakar di Muara Ohong itu wilayah rawa. Vegetasinya sejenis rumput gajah, itu juga jadi penyumbang asap. Kemarin memang kita tidak bisa menjangkau untuk pemadaman karena aksesnya. Kondisi kontur tanahnya basah sehingga motor pun tidak bisa masuk,” jelasnya.
Di sisi penanganan, Bupati Kubar Frederick Edwin menyampaikan bahwa pemerintah daerah menerapkan strategi penanganan darurat yang melibatkan berbagai unsur. Koordinasi dilakukan bersama BPBD, Kodim 0912/Kubar, Polres Kutai Barat, jajaran Polsek, KPHP, Manggala Agni, Brimob, petugas pemadam kebakaran kecamatan, hingga masyarakat.
“Melalui BPBD Kabupaten Kutai Barat kita telah melaksanakan strategi penanganan darurat yang terintegrasi lintas sektor,” kata Frederick.
Salah satu langkah yang diperkuat adalah optimalisasi layanan darurat 112 sebagai pusat pengendalian operasi atau Pusdalops. Layanan ini menjadi jalur bagi masyarakat untuk melaporkan kejadian kebakaran sehingga informasi dapat segera diteruskan kepada petugas untuk ditindaklanjuti.
Penanganan di lapangan juga dilakukan melalui operasi pemadaman darat terpadu dengan mengerahkan tim reaksi cepat gabungan. Untuk mendukung kesiapan petugas, pemerintah daerah telah menyalurkan sejumlah peralatan ke 16 kecamatan, meliputi mobil slip-on, motor trail, tandon air berkapasitas 5.000 liter, serta pompa portabel.
Tidak hanya berfokus pada pemadaman, Pemkab Kubar juga memperkuat pencegahan dengan mengaktifkan Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA). Kelompok tersebut dilibatkan dalam patroli rutin, pemantauan titik api, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Melalui penguatan koordinasi, kesiapan peralatan, dan keterlibatan masyarakat, Pemkab Kubar berupaya memastikan penanganan karhutla berjalan lebih terpadu. Langkah pencegahan juga terus didorong agar kejadian kebakaran serupa dapat diminimalkan. (Adv)
Editor: Erwin
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Kutai Barat per 5 November 2026, tercatat 225 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak 7.483,38 hektare. Sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan Areal Penggunaan Lain (APL), baik pada lahan mineral maupun gambut.
Dari jumlah kejadian, Kecamatan Barong Tongkok mencatat angka tertinggi dengan 74 kejadian, disusul Kecamatan Damai sebanyak 59 kejadian. Sementara berdasarkan luas area terbakar, Kecamatan Jempang menjadi wilayah terdampak terbesar dengan luasan mencapai 5.392,43 hektare.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kubar, Bambang Pramudito, menjelaskan kebakaran di sejumlah wilayah dipengaruhi karakteristik vegetasi dan material lahan yang berbeda. Selain gambut, api juga membakar tanaman penutup tanah di perkebunan kelapa sawit serta rumput dan sisa pelapukan dedaunan di kawasan rawa dan danau.
“Rata-rata material yang terbakar di wilayah Kutai Barat itu ada gambut. Kalau di wilayah sawit atau perkebunan ada cover crop, kacang-kacangan yang terbakar. Kemudian di danau ada rumput-rumputan dan sisa pelapukan dari dedaunan. Itu yang membuat asap menjadi tebal,” ujar Bambang kepada Korankaltim.com, Minggu (8/11/2026).
Salah satu wilayah yang menghadapi kendala akses pemadaman berada di Muara Ohong. Kawasan rawa dengan kondisi tanah basah membuat petugas kesulitan menjangkau sejumlah titik kebakaran.
“Yang terbakar di Muara Ohong itu wilayah rawa. Vegetasinya sejenis rumput gajah, itu juga jadi penyumbang asap. Kemarin memang kita tidak bisa menjangkau untuk pemadaman karena aksesnya. Kondisi kontur tanahnya basah sehingga motor pun tidak bisa masuk,” jelasnya.
Di sisi penanganan, Bupati Kubar Frederick Edwin menyampaikan bahwa pemerintah daerah menerapkan strategi penanganan darurat yang melibatkan berbagai unsur. Koordinasi dilakukan bersama BPBD, Kodim 0912/Kubar, Polres Kutai Barat, jajaran Polsek, KPHP, Manggala Agni, Brimob, petugas pemadam kebakaran kecamatan, hingga masyarakat.
“Melalui BPBD Kabupaten Kutai Barat kita telah melaksanakan strategi penanganan darurat yang terintegrasi lintas sektor,” kata Frederick.