"Normalnya Rp40 ribu, naiknya Rp5000 awalnya, sampai sekarang sudah Rp60ribu," kata pria 40 tahun ini saat ditemui di lapak dagangannya.
Kenaikan itu dikarenakan beberapa faktor. Kalau menurut Kiman, dilatarbelakangi biaya operasional yang tinggi karena dirinya harus mengambil ayam di daerah Berau dan Panajam Paser Utara. Kekosongan stok ayam lokal di dekat Bontang seperti Teluk Pandan, Muara Badak dan Sangatta setelah tahun baru lalu jadi penyebabnya.
"Uang jalannya ke Berau Rp5,5 juta untuk 2000 ekor ayam, kalau ke PPU Rp2 jutaan karena peternak dekat-dekat sini itu pada kosong," sebut Kiman lagi.
Sementara peternak ayam di Kawasan Teluk Pandan Muhammad menjelaskan, pihaknya memang tak menyetok ayam ternak setelah November 2021 lalu karena saat ini bibit day old chick (Doc) sedang kosong.
"Bibitnya yang kosong, karena November 2021 banyak yang ngisi. Bisa jadi mengejar tahun baru," sebut Muhammad saat dihubungi melalui telepon.
Selain itu harga pangan memang naik dan kalau sudah begitu biasanya peternak harus menahan diri untuk mengisi ternakannya dengan bibit.
"Bibitnya susah, pakan mahal, ayam merugi, jadi lebih baik tidak usah diisi dulu," ungkapnya.
Reseller bibit ayam kawasan Samarinda, Rina menjelaskan, kenaikan memang didasari dengan biaya ternak yang cukup tinggi. Hal itu termasuk biaya pakan, yang membuat harga bibit ayam tinggi.
Biaya pakannya saja, kini sudah mencapai hampir Rp500ribu per 50 kilo. Sementara untuk satu bulan biasanya menghabiskan 150 kilo pakan.
"Belum perawatan lampunya, vitamin air, penghangat kandang, pokoknya banyak" kata Rina.
Hal itu membuat pihaknya pun harus menjual bibitnya dengan cukup tinggi. Kini, harga jual bibit sudah mencapai Rp880 ribu sampai Rp900 ribu per seratus ekor doc. "Jadi memang mahal," sebut Rina lagi.
Penulis : Romi Ali Darmawan
Editor: Aspian Nur