PT PLN (Persero) mengeluarkan statemen kritis listrik, lantaran ancaman tidak terpenuhinya pasokan batu bara untuk pembangkit listrik.
Dari hasil koordinasi dengan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Kalimantan Bagian Timur (UIP KLT) Manajer PLN UP III Bontang, Donna Sinatra mengatakan keputusan menteri yang dinilai akan membuat Indonesia krisis listrik, masih belum terlihat dampak signifikan untuk Kalimantan Timur, untuk saat ini.
"Hasil komunikasi kita, dengan mereka (PT PLN UIP KLT) sistem masih stabil, pasokan juga masih cukup, enggak ada terkendala sama sekali, masih normal aja," terangnya ditemui di Kantor PLN ULP Bontang, Jalan Mt Haryono, Kamis (6/1/2022).
Berdasarkan data beban puncak 05 Januari 2022. Untuk sistem mahakam sendiri, memiliki daya mampu netto1182.53 megawatt (MW) dengan daya mampu pasok mencapai 753.29 MW. Di hari itu, beban puncak mencapai 518.92 MW. Cadangan listrik nya pun masih memiliki sekitar 239.77 MW, dengan persentase Reserved Margin 46.21 persen.
Sementara untuk pasokan listrik di kawasan PLN ULP Bontang, dalam satu hari mencapai 36.251 killowatt (KW) untuk beban puncak. (Data 5 Januari 2022). artinya, dengan melihat jumlah cadangan yang dimiliki, kekhawatiran krisis listrik untuk Kota Bontang, bisa diminimalisir.
"Kaltim masih aman. Pasokan aman, operasional aman," lanjutnya.
Selain itu, Donna menyebutkan, Kalimantan Timur khususnya Bontang, sudah masuk dalam kategori diversifikasi energi yang cukup kuat. Diversifikasi energi ini adalah praktik memvariasikan jenis sumber energi adalah guna mengurangi risiko yang tidak diinginkan. Hal itu lantaran sistem Jaringan Listrik di Kaltim juga memiliki banyak sumber cadangan, dan tak hanya bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara. Misalnya di kawasan Sambera dan Kanaan Bontang, terdapat pembangkit listrik tenaga gas, diesel, panas bumi, dan lain-lain.
"Tapi kita tidak bisa pastikan ke depan. Tapi untuk saat ini, di Kaltim untuk krisis listrik, masih belum. Semuanya masih terkendali," tutupnya.
Penulis : Romi Ali Darmawan
Editor : Bambang Irawan