Kata Plt DKP3 Bontang, Eddy Forestwanto mengatakan dari 450 liter yang diminta, pihak provinsi hanya bisa memberikan 120 liter. Imbasnya saat pagelaran pasar pangan murah tadi, 120 kupon yang disediakan pemerintah, ludes dalam dua jam. Beberapa warga yang datang terlambat pun merasa kecewa. "Kalau ada yang belum dapat kami minta maaf, tapi kami sudah usulkan lagi ke provinsi, agar dalam waktu dekat bisa digelar lagi," jelasnya.
Edy menjelaskan, minimnya stok yang diterima ini lantaran pihak penyedia stok, dari Toko Tani Indonesia di Samarinda, juga mengalami keterbatasan stok. Hal itu lantaran mereka baru saja menggelar pasar pangan murah. Selain itu, stok minyak secara nasional juga mengalami penurunan.
"Setelah koordinasi, tanggapan provinsi memberi respon baik. Cuma masih dikoordinasikan dulu, karena memang di provinsi sudah langka juga," jelasnya.
Untuk di Bontang sendiri indikasi kelangkaan belum terlihat. Namun pihaknya masih terus melakukan survei lapangan untuk melihat kondisi ketersediaan pangan dengan komoditas minyak goreng. Jika mulai terlihat, pihaknya akan melakukan koordinasi lanjutan kepada provinsi, meminta pasokan minyak dikirim ke Kota Bontang.
Ia menjelaskan sebenarnya pihak Toko Tani Indonesia di Samarinda, sudah bekerjasama dengan distributor minyak. Namun ia mengatakan, pihak Toko Tani Indonesia belum bisa mendistribusikan untuk luar kota. "Tapi kalau ada yang mengajukan itu nanti bisa dikirim, yang penting peruntukannya untuk pasar pangan. Jadi mengantisipasi penimbunan," jelasnya.
Eddy juga menyampaikan, agar masyarakat tak perlu khawatir dan panik. Hingga memutuskan untuk menyetok minyak secara berlebihan, (panic buying). Ia mengkhawatirkan, jika masyarakat seperti itu, gejolak harga justru bisa terjadi. "Jadi tidak usah panik," tutup Eddy.
Penulis : Romi Ali Darmawan
Editor : Bambang Irawan