"Selama ini sebutan stigma bagi ODHIV masih terasa. Ini kami rasakan karena setiap berjuang untuk kesejahteraan para ODHIV kami terasa berat," ujar Rahma, Rabu (1/12/2021).
Rahma mengakui, banyak ODHIV binaan KDS Bonseti berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka rata-rata ekonominya sangat minim, apalagi situasi pandemi Covid-19.
"Kami sering meminta bantuan ke perusahaan dan pemerintah untuk pembinaan para ODHIV, namun sejak dulu hanya dilihat sebelah mata. Selama ini kami bahu membahu antara pengurus KDS mencari dana agar bisa membantu perekonomian mereka," ujarnya.
Kadang lanjut Rahma, sulitnya keadaan membuat harus banting tulang buat operasional.
Ia mencari dana dengan cara melakukan terapi massage/pijat lulur dan facial. Dananya untuk menambah operasional seperti pendampingan, membantu usaha dan peningkatan gizi para ODHIV.
"Terus terang kami kesulitan dana, saya hanya ibu rumah tangga yang peduli nasib ODHIV, dan yayasan inipun dorongan dari Dinas Sosial dan para ODHIV. Kami sering sokongan/urunan agar bisa meringankan beban mereka. Selama ini bantuan yang kami dapat hanya dari Baznas saja. Itupun hanya sekali berupa sembako dan alat kesehatan," jelasnya.
Saat ini pendampingan KDS Bonseti tinggal 110 ODHIV, karena sudah banyak yang pindah dan meninggal. "Kalau dihitung sudah ada 200 lebih dampingan kami," katanya.
Sementara untuk kordinasi kesehatan dengan Puskesmas dan rumah sakit dikatakan Rahma, bagus saja dan selama ini masih lancar. Rahma merasa keberadaan KDS Bonseti tidak dianggap. Pasalnya tidak pernah ada pembinaan bagi mereka.
Padahal lembaga KDS Bonseti sudah mengantongi sertifikat akreditasi B dari Kemensos. "Kemensos melihat yayasan KDS Bonseti jempol dianggap bagus karena bisa mengubah prilaku jelek masa lalu ODHIV, dan mereka hijrah ke hal yang lebih baik. Itu semua kami lakukan murni jiwa kemanusiaan," ujarnya.
Penulis : Cholisoh
Editor : Bambang Irawan