Iapun mengaku tak tahu jika bus akan berhenti beroperasi di hari pertama penyekatan ini. “Saya mau jemput anak saya di Samarinda mbak,” ucap Roni, penumpang yang ditemui Korankaltim.com.
Terminal yang berlokasi di Jalan Letjen S. Parman No.36, Belimbing, Bontang Barat ini kabarnya telah sepi penumpang sejak Rabu, (5/5/2021) malam.
“Semalam bus itu pulang ke Samarinda kosongan,” ucap Perwakilan Damri, Abdi Mariyono pada (6/5/2021). Ia mengaku pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa kala angkutan bus dilarang untuk beroperasi selama masa pelarangan mudik.
Seseorang yang mengaku sebagai Ketua Serikat Pekerja Transportasi (SPT) Bontang, Andi Sayudi Nur juga membeber bahwa hari ini tidak ada satupun bus yang beroperasi di Terminal Kota Bontang. Dirinya mengaku khawatir jika pelarangan ini berlanjut.
“Saya masyarakat kecil, butuh makan,” ungkapnya. Ia mengaku satu-satunya penghasilan adalah dari beroperasinya armada bus ini. “Kalau dilarang ya terpaksa nganggur,” jawabnya saat disinggung terkait kerja sambilan yang mungkin dilakukan.
Kepala Dishub Kota Bontang, Kamilan kala dihubungi melalui sambungan telpon mengaku jika kewenangan perijinan operasi armada bus ini berada di tingkat Provinsi. “Itu kan antar kabupaten atau kota ya mbak,” tegasnya.
Sementara Sopir Bus PO Sapulidi, Safi’I, yang juga dihubungi melalui sambungan telpon mengatakan, mulai besok sejumlah bus akan mulai beroperasi kembali. Ia mengaku telah mendapatkan surat jalan dari Kepala UPTD Perhubungan Samarinda.
“Yang penting syaratnya itu penumpang tidak penuh, harus ada surat antigen negatif baik penumpang ataupun sopir,” ungkapnya. Kendati demikian Safi’i menyesalkan aturan Antigen bagi sopir bus yang berlaku hanya 1x24 jam.
“Satu kali jalan kita biasa dapat Rp70 ribu sampai Rp. 100 ribu saja,” ucapnya. Iapun mengkhawatirkan jika penumpang bus akan menyusut. “Sepertinya penumpang tidak mau (cenderung menghindari mudik),” tegasnya. Musababnya, harga tiket yang senilai Rp 30 ribu dengan harga tes Rapid Angtigen Rp200 ribu. “Untuk penumpang ya mending buat makan,” tandasnya lagi.[]
Penulis : Choirun Nisa
Editor : Rusdi