Mudawam, pemilik pabrik tahu di Bontang ini misalnya. Pihaknya kini harus menaikan harga hingga Rp85 ribu untuk satu ember berisi 128 potong tahu padahal biasanya hanya Rp80 ribu. Untuk eceran juga mengalami kenaikan, satu bungkus tahu yang awalnya hanya tiga ribu rupiah naik menjadi empat ribu rupiah per bungkus.
“Selama saya usaha ini selama 30 tahunan, baru kali ini sangat terasa,” kata Dawam, sapaan akrabnya ditemui di pabriknya Jalan A Yani Gang Rawa Indah Kelurahan Api-api, Bontang. Selasa (25/1/2021) siang tadi.
Menurut Dawam, kenaikan harga perkarungnya mencapai Rp130 ribu. Pasalnya, dari harga normal Rp360 ribu per karung kini telah mencapai Rp490 ribu per karungnya. “Naiknya pelan, mulai dari pertengahan pandemi. Kalau datang lagi virus ini, kemungkinan akan naik lagi harganya,” paparnya.
Selain itu, akibat kenaikan harga yang cukup signifikan, Dawam harus rela memangkas keuntungannya. Meski tak menyebutkan berapa harga perbandingan untuk harga normal kedelai dan yang telah mengalami kenaikan, ia menyebutkan keuntungan harus terpotong hingga Rp30 juta dalam satu bulan.
“Satu truk itu, ada kenaikan sampai Rp3 juta, datang lagi naik lagi segitu. Jadi dalam sebulan itu, memang masih untung, tapi kalo di hitung keuntungan terpotong sampai Rp30 juta,” ungkapnya.
Meskipun begitu, pihaknya telah memberikan pengertian kepada seluruh langganan mulai pelaku usaha makanan, hingga penjual eceran. “Sudah kami tanyakan, mau ukuran yang dikecilin atau dinaikkan harganya. dan mereka mengerti, kalau harganya naik, jadi ukuran tetap sama. Yang penting mutunya, kami pastikan berkualitas,” tegas Dawam. (*)
Penulis : Romi Ali Darmawan
Editor: Aspian Nur