Sebanyak 41 pasukan pengibar bendera (Paskibra) mampu memberikan penampilan yang maksimal, nyaris tanpa cela. Tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat pun turut hadir dalam upacara pengibaran bendera, Sabtu (17/8/2019).
Usai pengibaran bendera, barulah drama kolosal ditampilkan. Sebanyak 300 orang yang terdiri dari siswa siswi SMA/SMK/MAN se-Kota Bontang turut berperan di dalamnya, dengan di-back up oleh beberapa anggota TNI dari Kodim 0908/BTG.
Salah satu pelatih drama kolosal, Eko Budi menuturkan jalan cerita yang diperankan dalam drama yakni usai pembacaan proklamasi kemerdekaan, terjadilan euforia rakyat Indonesia.
Namun, kemudian terjadi agresi militer dan negara kembali dalam keadaan kacau. Nah, saat situasi kacau, Jenderal Soedirman sebagai seorang militer yang sedang dalam keadaan sakit terpanggil hatinya. “Ia tak suka ada perundingan, sebab sama dengan pembodohan penjajah. Akhirnya ia (Jenderal Soedirman) memanggil seluruh panglima divisi, mulai divisi 1-4,” jelas Eko.
Mengingat situasi sedang genting, dan banyak pejabat yang diasingkan oleh penjajah, banyak pertikaian juga, sehingga melalui kurir, Jenderal Soedirman mengirimkan surat untuk mengumpulkan pejabat yang kocar kacir diadu domba oleh Belanda. Meski dalam kondisi sakit, Jenderal Soedirman ingin mati di medan tempur, bukan mati di dalam kamar. Kemudian terjadilah pertempuran.“Jenderal Soedirman ini seorang ahli strategi, setiap ada penjajah, ia selalu hilang dengan berbagai triknya,” ujarnya.
Setelah itu, dikupaslah apa rahasia atau jimat dari Jenderal Soedirman. Disitulah terungkap bahwa Jenderal Soedirman tak pernah lepas dari wudhunya, selalu salat 5 waktu dengan tepat waktu, dan selalu bekerja tulus dan ikhlas. Bukan untuk pribadi, keluarga, golongan atau siapapun. Tapi untuk rakyat Indonesia. “Itu merupakan jimat beliau, dan beliau yakin adanya Tuhan, dan ia yakin TNI akan timbul tenggelam bersama negara,” terangnya.
Sampai akhirnya keluar statement dari Jenderal Soedirman. “Robek-robeklah dadaku, potong-potonglah badanku. Karena jiwaku dilindungi oleh merah putih yang akan selalu membela negara rakyat Indonesia. Hal itulah pesannya untuk membangkitkan semangat juang anak-anak generasi penerus bangsa,” bebernya.
Drama itu, lanjutnya, merupakan sejarah pada saat Kemerdekaan Republik Indonesia 1945 lalu. Dimana Belanda tidak senang Indonesia merdeka sehingga terjadi agresi militer 1 dan 2 tahun 1945-1948, atau selama dua tahun. Para pemeran drama kolosal dilatih oleh 7 pelatih. Mulai dari penulis skenario, pembuat suara, aransemen musik, dan lainnya. “Total ada sekira 7 pelatih, dan penanggung jawab drama kolosal ini Komandam Kodim 0908/BTG,” pungkasnya.
Penulis.olis
Editor: M.Huldi