Pantauan Korankaltim.com, Jumat (28/9/2018) pukul 21.10 WITA, warga yang menghuni lantai 3 dan 4, membuat tenda darurat di ruang halaman rusunawa. Mereka khawatir terjadi gempa susulan.
"Guncangannya kencang sekali, kita nggak berani naik, kayak kapal oleng, terasa sekali," kata Umiati, sambil menidurkan anaknya yang baru berusia empat bulan di dalam tenda.
Hal sama juga diakui Hernia, yang juga memiliki bayi berusia 1 tahun. Ia tak berani naik ke atas kamar, karena baru pertama ini merasakan guncangan gempa. "Pusing sekali tadi di atas, lutut sampai gemeter, jadi sementara kita tidur di tenda saja," ujarnya.
Dari informasi yang dihimpun, di lantai 3 dan 4 ada sekitar 50 penghuni. Mereka hanya mendirikan satu tenda darurat berukuran 3 x 6 meter. Minimnya fasilitas membuat tenda itu hanya bisa ditempati ibu-ibu dan balita. Sebagian lainnya menempati halaman dan masjid rusunawa serta menumpang di rumah keluarga.
Penulis: Cholisoh
Editor: Supiansyah