Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa mengatakan kekayaan alam seperti Derawan dan Maratua akan memiliki nilai lebih ketika dipadukan dengan cerita, tradisi, dan karya budaya masyarakat setempat.
“Pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan keindahan alam,” ujarnya.
Penguatan budaya diperlukan agar destinasi wisata tidak memiliki daya tarik yang seragam. Identitas lokal justru menjadi pembeda yang dapat memperkuat pengalaman wisatawan sekaligus menjaga keberlanjutan pariwisata.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Disbudpar Berau bersama Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN) dalam program “Dalling & Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya”.
Program ini melahirkan tiga motif batik yang terinspirasi dari kekayaan Derawan dan Maratua, yakni Bokko’ Lumangi, Buung Embal Naban, dan Goyak. Ketiganya merepresentasikan lingkungan, kehidupan masyarakat, serta kekayaan budaya kawasan pesisir Berau.
Tidak berhenti pada batik, program tersebut juga merevitalisasi Tari Baliu Dalling melalui riset budaya, pengembangan koreografi, dan aransemen musik. Proses tersebut tetap mempertahankan nilai budaya masyarakat Bajau sehingga tari tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana pelestarian warisan budaya.
Yudha menilai karya budaya dapat menjadi produk pendukung pariwisata sekaligus memberikan ruang ekonomi bagi pelaku seni dan masyarakat.
“Budaya juga bisa menjadi bagian dari promosi pariwisata dan membuka ruang ekonomi,” katanya.
Program tersebut diluncurkan pada 30 Juli 2026 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta. Kegiatan itu mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiaraya yang dikelola LPDP. (*)