Rabu, 29/07/2026
Rabu, 29/07/2026
Sosialisasi Proyek Perubahan Hilir Berau (Hilirisasi Pengalengan Produk Perikanan Premium) yang digelar Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Rabu (29/7/2026). (Foto: Indri/Korankaltim.com)
Rabu, 29/07/2026

Sosialisasi Proyek Perubahan Hilir Berau (Hilirisasi Pengalengan Produk Perikanan Premium) yang digelar Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Rabu (29/7/2026). (Foto: Indri/Korankaltim.com)
Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB - Potensi perikanan Kabupaten Berau yang mencapai 104.915 ton per tahun belum sepenuhnya memberi nilai tambah bagi masyarakat. Dari potensi tersebut, hasil perikanan yang masuk ke sektor pengolahan baru sekitar 3.779 ton per tahun atau hanya 3,6 persen.
Kesenjangan itu mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Perikanan menggenjot hilirisasi hasil laut. Salah satu langkah yang disiapkan ialah Program Hilir Berau, dengan pengembangan produk ikan kaleng sebagai bagian dari upaya mengubah komoditas perikanan dari sekadar bahan mentah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, mengatakan potensi perikanan yang besar harus diikuti dengan perubahan pola pemanfaatan hasil tangkapan. Selama ini, sebagian besar produk perikanan Berau masih dipasarkan dalam kondisi segar sehingga peluang peningkatan nilai ekonomi belum maksimal.
“Dengan potensi yang ada, kami melakukan langkah inovasi,” ujar Abdul Majid.
Menurut dia, pengembangan produk olahan menjadi bagian penting untuk memperkuat daya saing komoditas perikanan lokal. Produk ikan kaleng diharapkan menjadi salah satu pintu masuk bagi pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya laut Berau.
“Selama ini hanya produk ikan segar. Kini kami mengembangkan produk olahan,” katanya.
Melalui Program Hilir Berau, Dinas Perikanan menyiapkan strategi terintegrasi untuk mendorong pengalengan hasil perikanan premium. Program tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam rantai industri pengolahan.
Berdasarkan proyeksi proyek perubahan tersebut, hilirisasi berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hingga 3,62 kali lipat atau sekitar 262 persen dibandingkan penjualan produk mentah. Pendapatan UMKM pengolahan ikan juga diproyeksikan meningkat dari rata-rata Rp8 juta menjadi sekitar Rp29 juta per bulan.
Abdul Majid menilai dampak hilirisasi tidak hanya berhenti pada peningkatan pendapatan pelaku usaha. Pengembangan industri pengolahan juga berpotensi membuka lapangan kerja, menarik investasi, memperkuat UMKM, sekaligus memperluas pasar produk perikanan Berau ke tingkat regional dan nasional.
“Hilirisasi bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keharusan,” tegasnya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, mengapresiasi langkah yang ditempuh Dinas Perikanan Berau. Menurutnya, hilirisasi menjadi fondasi penting sebelum sektor perikanan berkembang menuju industrialisasi yang lebih besar.
“Kami mengapresiasi pemilihan hilirisasi ini,” ujarnya.
Irhan berharap Program Hilir Berau tidak berhenti sebagai proyek perubahan, tetapi berlanjut menjadi program pembangunan yang konsisten. Dengan demikian, potensi perikanan yang selama ini banyak dijual dalam bentuk segar dapat diolah di daerah dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pesisir.
“Jangan hanya menjadi parade proyek perubahan,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Rabu, 29/07/2026
Sosialisasi Proyek Perubahan Hilir Berau (Hilirisasi Pengalengan Produk Perikanan Premium) yang digelar Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Rabu (29/7/2026). (Foto: Indri/Korankaltim.com)
TERPOPULER