Penulis: Muhammad Solih Januar
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN - Meskipun hujan dengan intensitas sedang mengguyur hampir seluruh wilayah di Balikpapan pada pagi dan siang hari, nyatanya itu tak membuat jerebu alias kabut asap menurun.
Penulis: Muhammad Solih Januar
KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN - Meskipun hujan dengan intensitas sedang mengguyur hampir seluruh wilayah di Balikpapan pada pagi dan siang hari, nyatanya itu tak membuat jerebu alias kabut asap menurun.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Spinggan Balikpapan Djoko Sumardiono menyebut, pekatnya kabut asap ini diukur dari visibilitas atau jarak pandang yang saat ini menurun secara drastis.
"Untuk jarak pandang saat ini ada di angka 1000 hingga 5000 meter," papar Djoko.
Kalau di konversi menjadi Kilometer, maka jarak pandang di kota minyak ini hanya berkisar 1 hingga 5 kilometer, jarak masih masuk kategori aman untuk aktifitas penerbangan.
Namun pekatnya kabut asap ini tidak aman untuk kesehatan karena berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang dihimpun BMKG, untuk Balikpapan kini mulai berubah warna, yang semula biru atau sedang kini menjadi kuning dalam arti tidak sehat.
"Untuk angka ISPU saat ini berada di angka 108," paparnya.
Bila melihat keterangan dari indeks tidak sehat berbunyi, tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia dan hewan. Untuk itu, direkomendasikan untuk mengurangi aktivitas atau kegiatan fisik di luar ruangan.
Lanjut Rasmid menerangkan, pekatnya kabut asap yang sudah terjadi dalam waktu tiga hari terakhirnya ini disebabkan sejumlah Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi, baik di Balikpapan yang selama Oktober sudah terjadi sebanyak 14 kali, serta kiriman dari luar daerah.
"Ini tentunya dipengaruhi oleh arah angij yang mengarah ke sini," ucap Djoko
Editor: Aspian Nur
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Spinggan Balikpapan Djoko Sumardiono menyebut, pekatnya kabut asap ini diukur dari visibilitas atau jarak pandang yang saat ini menurun secara drastis.
"Untuk jarak pandang saat ini ada di angka 1000 hingga 5000 meter," papar Djoko.
Kalau di konversi menjadi Kilometer, maka jarak pandang di kota minyak ini hanya berkisar 1 hingga 5 kilometer, jarak masih masuk kategori aman untuk aktifitas penerbangan.
Namun pekatnya kabut asap ini tidak aman untuk kesehatan karena berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang dihimpun BMKG, untuk Balikpapan kini mulai berubah warna, yang semula biru atau sedang kini menjadi kuning dalam arti tidak sehat.
"Untuk angka ISPU saat ini berada di angka 108," paparnya.
Bila melihat keterangan dari indeks tidak sehat berbunyi, tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia dan hewan. Untuk itu, direkomendasikan untuk mengurangi aktivitas atau kegiatan fisik di luar ruangan.
Lanjut Rasmid menerangkan, pekatnya kabut asap yang sudah terjadi dalam waktu tiga hari terakhirnya ini disebabkan sejumlah Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi, baik di Balikpapan yang selama Oktober sudah terjadi sebanyak 14 kali, serta kiriman dari luar daerah.
"Ini tentunya dipengaruhi oleh arah angij yang mengarah ke sini," ucap Djoko
Editor: Aspian Nur






168 kali dibaca

Pusat gempa berada di laut 103 km selatan Pacitan
13 Okt 2026, 17:22:02 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG