Aktivitas tersebut meningkat seiring mendekatnya Hari Raya Iduladha. Namun, peningkatan itu hanya bersifat sesaat. Di tengah lesunya kondisi perekonomian, sentra kerajinan pandai besi tradisional satu-satunya di Kota Minyak ini justru mengalami penurunan. Omzet pembuatan parang nilai merosot tajam dibandingkan musim kurban pada tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun ini kurang, kurang begitu enak kayak tahun-tahun lalu. Penghasilannya enggak dapat banyak,” keluh Juliansyah saat ditemui di bengkelnya, Selasa (19/5).
Juliansyah menceritakan, pada musim kurban tahun lalu, dua atau tiga bulan sebelumnya bengkel sudah sangat ramai. Pesanan parang untuk menyembelih bahkan bisa laku 20, 30, hingga 50 biji per hari.
“Kalau sekarang, cuman masuk 5 atau 10 pesanan baru ,” tambahnya.
Menurutnya, ramainya warga yang datang belakangan ini murni didominasi oleh jasa perawatan atau sekadar mengasah ulang senjata lama mereka, seperti pisau dan kampak pemotong tulang.
Selain karena faktor ekonomi yang sedang lesu, Juliansyah beranggapan rata-rata masyarakat saat ini sudah memiliki alat sembelihan sendiri dari tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat warga lebih memilih opsi hemat dengan tidak membeli properti kurban baru, melainkan hanya memanfaatkan jasa asah untuk menajamkan kembali alat yang sudah ada.
Padahal untuk urusan kualitas produksi baru, Juliansyah selalu menyediakan pilihan bahan baku terbaik. Mulai dari besi per biasa, per spiral, hingga besi kelahar atau bearing yang dikenal menghasilkan mata bilah paling tajam. Besi-besi pilihan tersebut ditempa dan dibakar secara berulang-ulang sampai membentuk sebilah parang sembelih yang kokoh.
Untuk urusan tarif, bengkel yang telah berdiri sejak tahun 1950-an ini sebenarnya masih mematok harga yang ramah di kantong. Biaya yang dibanderol berkisar antara Rp50.000 untuk jenis pisau, hingga Rp150.000 untuk parang.
“Harga tergantung pada tingkat ketebalan bahan besi yang dibawa oleh konsumen atau disediakan pihak bengkel,” tuturnya.
Pilihan untuk menekomodasi pengeluaran ini diakui oleh salah seorang pelanggan setia, Jamaluddin. Dibandingkan memesan parang baru yang memerlukan biaya lebih besar, ia memilih untuk merawat peralatan kurban miliknya yang masih layak.
“Sengaja ke sini buat persiapan Iduladha nanti, memang sudah menjadi rutinitas tahunan. Di Balikpapan ini salah satu tempat pandai besi yang sepuh dan buatannya terkenal tajam,” tutur Jamaluddin.
Editor: Erwin