Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud, dalam sambutannya menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus memperhatikan kesejahteraan pekerja dan buruh.
Dirinya memiliki kedekatan emosional dengan dunia buruh karena pernah bekerja sebagai tenaga bongkar muat sejak usia muda.
“Saya hadir bukan hanya sebagai wali kota, tetapi juga bagian dari keluarga besar buruh di Balikpapan. Saya memahami betul bagaimana kehidupan pekerja karena saya pernah menjalaninya,” ujar Rahmad.
Rahmad menungkapkan pernah menjabat sebagai Ketua Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) di Kampung Baru sebelum akhirnya menjabat sebagai wali kota. Pengalaman tersebut menjadi dasar komitmen moral dalam memperjuangkan kepentingan buruh di Kota Balikpapan.
Dalam kesempatan itu, Rahmad menyampaikan bahwa kondisi perekonomian Balikpapan menunjukkan tren positif yang indikatornya adalah rendahnya angka kemiskinan yang disebut berada di kisaran 1,8 persen, berdasarkan penilaian sejumlah kementerian dan lembaga survei.
“Ini menunjukkan perekonomian kita bergerak baik, didukung investasi yang masuk dan terbukanya lapangan kerja. Meski begitu, kami menyadari masih ada yang perlu dibenahi,” kata Rahmad lagi.
Sinergi antara pemerintah, pengusaha dan pekerja dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah sangat penting. Kolaborasi menjadi kunci untuk memastikan kesejahteraan pekerja sekaligus keberlanjutan dunia usaha.
Terkait aspirasi buruh, termasuk soal penghapusan sistem outsourcing, Rahmad menyatakan dukungannya, namun kebijakan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat. Meski demikian, ia memastikan akan memfasilitasi penyampaian aspirasi pekerja ke tingkat yang lebih tinggi.
Rahmad juga menyinggung soal upah minimum kota (UMK) yang terus diupayakan mengalami peningkatan setiap tahunnya, meskipun diakuinya masih dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kebijakan di tingkat provinsi dan pusat.
Dalam peringatan May Day ini, ia mengajak seluruh pihak untuk lebih mengedepankan dialog dalam menyampaikan aspirasi. Menurutnya, komunikasi langsung antara pekerja dan pemerintah akan lebih efektif dalam menghasilkan solusi.
“Kalau duduk bersama dan berdialog, peluang aspirasi untuk diakomodasi akan lebih besar dibandingkan hanya menyampaikan diluar,” tutup Rahmad.
Editor: Aspian Nur