Namun ditengah proses pemantapan manifestasi, empat calon jemaah dipastikan batal berangkat ke Tanah Suci pada musim haji tahun ini karena alasan kesehatan.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Balikpapan Suharto Baijuri menjelaskan, keempat calon jemaah tersebut terdiri dari dua pria dan dua wanita. Keberangkatan mereka harus ditunda setelah hasil pemeriksaan tim dokter menyatakan kondisi kesehatan tidak memenuhi kriteria istito’ah atau kemampuan fisik untuk menjalankan ibadah haji.
"Berdasarkan rekomendasi pihak keluarga dan dokter yang menangani, mereka tidak bisa diberangkatkan. Kami melakukan proses penundaan karena pemerintah Arab Saudi sangat ketat terkait kondisi kesehatan jemaah. Kasihan kalau dipaksakan beribadah dalam kondisi sakit," jelas Suharto kepada Korankaltim.com Jumat (24/4/2026).
Meski ada calon jemaah yang tertunda keberangkatannya, Suharto memastikan tidak ada open seat atau kursi kosong dalam kloter pertama. Posisi empat jemaah tersebut langsung diisi oleh jemaah cadangan yang berasal dari Kutai Timur (Kutim) dan Kutai Kartanegara (Kukar).
Secara keseluruhan, calon jemaah haji Kota Balikpapan yang berangkat tahun ini berjumlah 675 orang, terdiri dari 293 pria dan 382 wanita. Seluruh jemaah ini terbagi ke dalam empat kelompok terbang (kloter), yakni kloter 2, Kloter 13, kloter 15 dan 17.
Kloter haji yang melalui Embarkasi Kota Balikpapan terdapat 17 kloter. Para jemaah tidak hanya dari sejumlah wilayah di Kalimantan Timur, namun juga dari Provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Utara.
Musim haji kali ini juga mencatatkan calon jemaah dengan rentang usia yang kontras. Jemaah tertua asal Balikpapan tercatat berusia 80 tahun (wanita) dan 79 tahun (pria) yang akan diberangkatkan pada kloter 2 dan kloter 17, sementara jemaah termuda berusia 18 tahun, berangkat sebagai ahli waris menggantikan orangtuanya yang meninggal dunia, namun dinyatakan layak secara administrasi dan kesehatan untuk berangkat tahun ini.
Para jemaah diingatkan untuk menjaga kesehatan hingga hari keberangkatan. Terlebih, proses pemeriksaan kesehatan tahap kedua akan kembali dilakukan di Embarkasi Balikpapan sebelum masuk ke asrama.
Selain kesehatan, jemaah juga dibekali dengan gelang identitas, living cost (biaya hidup) dan yang paling krusial adalah Kartu Nusuk. Kartu ini menjadi syarat mutlak untuk mengakses layanan ibadah di Arab Saudi.
"Kami mengimbau jemaah agar melek teknologi. Kartu Nusuk itu sangat penting, kalau bisa tersimpan juga di handphone. Bagi jemaah lansia yang kurang paham IT, kami minta jemaah yang lebih muda untuk saling bantu atau menggandeng mereka," pungkas Suharto.
Editor: Aspian Nur