Kepala Disdag Balikpapan Haemusri Umar menjelaskan, kondisi tersebut memaksa pihaknya melakukan efisiensi dan penyesuaian program kerja, dengan memprioritaskan kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Dari berkurangnya anggaran ini, kami fokus pada kegiatan yang langsung dirasakan masyarakat, seperti pasar murah dan pemeliharaan pasar,” kata Haemusri Jumat (3/4/2026).
Sebagian besar anggaran saat ini terserap untuk belanja rutin, terutama gaji pegawai yang mencapai sekitar Rp30 Miliar, sementara itu alokasi untuk pemeliharaan pasar hanya sekitar Rp3,5 Miliar yang digunakan untuk 12 pasar yang dikelola Disdag.
“Untuk fisik di tahun 2026 ini tidak ada sama sekali, hanya pemeliharaan saja,” ucapnya.
Selain itu, anggaran perjalanan dinas juga ikut dipangkas menjadi Rp150 Juta dari sebelumnya Rp300 Juta, sebagai bagian dari langkah efisiensi.
Menyiasati keterbatasan anggaran, Disdag tetap mengoptimalkan program pengendalian inflasi daerah melalui kegiatan pasar murah dan pangan murah. Program tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Haemusri mengungkapkan, idealnya kegiatan pasar murah tidak hanya digelar saat hari besar keagamaan seperti Ramadan/Idulfitri dan Natal/Tahun Baru, tetapi dapat dilaksanakan secara rutin setiap bulan.
Dengan keterbatasan anggaran yang ada, Disdag Balikpapan berupaya tetap menjaga kinerja, khususnya dalam mendukung Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi.
“Kalau ingin benar-benar membantu masyarakat, seharusnya pasar murah bisa dilakukan setiap bulan. Ini juga melibatkan distributor agar tidak hanya berorientasi bisnis, tetapi juga menjalankan fungsi sosial,” pungkas Haemusri.
Editor: Aspian Nur