Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid, menjelaskan puncak gerhana terjadi pada pukul 19.03 hingga 19.33 Wita. Namun pada rentang waktu tersebut langit Balikpapan diselimuti awan pekat.
“Puncaknya justru tertutup awan tebal, jadi tidak bisa kami observasi. Kami baru bisa mengamati saat memasuki akhir fase totalitas,” ujarnya.
Menurutnya, meski fase puncak terlewat, tim pengamat tetap bersyukur karena masih dapat menyaksikan bagian akhir gerhana bulan total. Warna kemerahan atau yang dikenal sebagai blood moon tetap terlihat meski tidak berlangsung lama.
Pengamatan dilakukan menggunakan teleskop yang terhubung ke perangkat komputer melalui metode live imaging. Cara ini memungkinkan citra bulan ditampilkan secara langsung di layar, sehingga detail perubahan fase dapat dimonitor lebih jelas saat kondisi langit mendukung.
Rasmid menyebut, dibandingkan Balikpapan, wilayah Indonesia Timur seperti Kupang dan Sumba dilaporkan dapat mengamati gerhana dengan lebih jelas karena kondisi cuaca yang lebih bersahabat.
“Di beberapa wilayah Indonesia Timur cuacanya bagus sehingga fase totalitas terlihat jelas. Kalau di sini, kita hanya dapat di ujung-ujungnya saja,” katanya.
Ia menambahkan, gerhana bulan total ini bukan merupakan sebuah siklus sehingga tidak bisa diprediksi kapan kembali terjadi.
"Karena perputaran poros bumi ini terus berubah sehingga tidak bisa di prediksi kapan memiliki posisi sejajar, artinya berapa tahun kapan akan terulang lagi belum diketahui. Yang pasti sepanjang tahun ini ada 4 gerhana " pungkasnya.
Editor: Erwin