Kepala Badan Meteoroligi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono kepada Korankaltim.com, menyampaikan berdasarkan prakiraan pasang surut periode 1–10 Maret 2026, potensi banjir rob dapat terjadi di perairan Balikpapan, Muara Sungai Mahakam, hingga Teluk Sangkulirang, Kutai Timur.
“Untuk perairan Balikpapan, pasang tertinggi diprediksi terjadi pada 4 Maret 2026 dengan ketinggian mencapai 2,9 meter pada pukul 19.00 Wita. Surut terendah diperkirakan setinggi 0,3 meter pada 8 Maret 2026 pukul 02.00 Wita,” ucapnya, Minggu (1/3/2026).
Kemudian, di Muara Sungai Mahakam (Pulau Nubi), pasang tertinggi juga diprakirakan terjadi pada 4 Maret 2026 dengan ketinggian 2,8 meter pada pukul 19.00 Wita, sedangkan surut terendah 0,2 meter pada 6 Maret 2026 pukul 14.00 Wita. Adapun di Teluk Sangkulirang, pasang maksimum diprediksi mencapai 2,8 meter pada 4 Maret 2026 pukul 19.00 Wita, dengan surut terendah 0,1 meter pada 8 Maret 2026 pukul 02.00 Wita.
Djoko menjelaskan, potensi rob muncul ketika pasang maksimum bertepatan dengan faktor lain seperti hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, terutama jika terjadi limpasan air dari daerah aliran sungai. Karena itu, masyarakat pesisir dan wilayah rendah diimbau meningkatkan kewaspadaan pada 3 hingga 5 Maret 2026. “Khususnya pada malam hari saat pasang maksimum terjadi,” tegasnya.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid menegaskan, dampak gerhana bukan total terhadap kondisi cuaca dan suhu udara tidak signifikan. Namun, secara astronomis, posisi Matahari-Bumi-Bulan yang sejajar dapat memengaruhi pasang air laut.
“Kenaikan air laut memang ada, tetapi rob itu tidak berdiri sendiri. Ada faktor lain yang turut memengaruhi, seperti curah hujan dari wilayah hulu,” bebernya.
Berdasarkan data dari BMKG, Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 berlangsung selama 5 jam 41 menit 51 detik, terhitung sejak fase penumbra mulai (P1) hingga penumbra berakhir (P4). Sementara durasi totalitasnya berlangsung selama 59 menit 27 detik.
Untuk wilayah Wita, fase gerhana total dimulai pukul 19.03.56 Wita dan puncak gerhana terjadi pada pukul 19.33.39 Wita. Gerhana total berakhir pukul 20.03.23 Wita. Secara keseluruhan, proses gerhana berakhir pukul 22.24.35 Wita .
Dalam penjelasan BMKG, gerhana bulan total terjadi ketika posisi Matahari-Bumi-Bulan sejajar sehingga Bulan masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Pada puncaknya, Bulan akan tampak berwarna merah akibat hamburan cahaya di atmosfer Bumi atau dikenal sebagai hamburan Rayleigh.
Rasmid menjelaskan, kondisi pasang maksimum berpotensi terjadi saat fase bulan purnama, termasuk ketika terjadi gerhana bulan total. Namun, tinggi muka air laut tetap sangat dipengaruhi dinamika lokal seperti tekanan udara, angin, serta curah hujan di daerah aliran sungai yang bermuara ke laut.
Karena itu, masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir Balikpapan dan wilayah rendah lainnya diimbau untuk memantau informasi prakiraan pasang surut dan cuaca terkini dari BMKG. Terlebih jika dalam periode yang sama terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
“Kalau curah hujan tinggi dari hulu bersamaan dengan pasang maksimum, maka potensi genangan bisa meningkat. Jadi bukan semata-mata karena gerhananya,” tegasnya.
BMKG juga mengingatkan bahwa pada tahun 2026 terjadi empat kali fenomena gerhana, yakni dua kali gerhana matahari dan dua kali gerhana bulan. Dari empat peristiwa tersebut, hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari Indonesia.
Editor: Erwin