Kubah yang besar, halaman luas, dan bangunan utama yang mengambil inspirasi dari arsitektur khas Masjid Nabawi, lengkap dengan payung membran (retractable umbrella), menjadikan Islamic Center sebagai salah satu ikon keagamaan modern Balikpapan.
Sejak diresmikan bertepatan dengan HUT Kota Balikpapan ke-120 pada 1 Februari 2017, masjid ini menyediakan ruang ibadah yang lebih layak bagi masyarakat sekaligus menjadi simpul pertemuan untuk berbagai kegiatan sosial dan pendidikan Islam.
Gagasan pembangunan Islamic Center sebenarnya muncul sejak awal 2010-an, seiring meningkatnya kebutuhan ruang ibadah yang representatif. Momentum terbesarnya hadir saat masjid ini resmi digunakan, menandai babak baru perkembangan fasilitas keagamaan di Balikpapan.
Beberapa tahun kemudian, kawasan ini dilengkapi dengan Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA), fasilitas baru yang semakin memantapkan identitas Islamic Center sebagai masjid ramah keluarga. Anak-anak dapat bermain dan belajar dengan aman, sementara orang tua menjalankan ibadah atau mengikuti kajian.
Namun, megahnya bangunan baru yang menjadi kebanggaan warga ini hanyalah satu bab dari kisah panjang denyut iman melalui rumah ibadah di Balikpapan. Sejarahnya jauh melampaui bangunan modern, menembus masa-masa ketika kota ini masih berupa permukiman pesisir, jauh sebelum lampu-lampu kota menyala dan industri perminyakan hadir.
Bab yang Bersemi di Jantung Kota Di pusat Kota Balikpapan, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, terdapat Masjid Agung At-Taqwa, yang telah menjadi jangkar spiritual bagi warga selama puluhan tahun. Cikal-bakal masjid ini berasal dari sebuah musala kecil pada 1940-an, dibangun secara gotong-royong ketika daerah ini masih dalam suasana perang dan tatanan kehidupan jauh dari stabil. Perayaan keagamaan kala itu berlangsung sederhana, namun musala tersebut menjadi pusat pertemuan, pengajaran agama, dan tempat masyarakat bersandar di tengah masa penuh ketidakpastian.
Pada 1958, warga setempat membangun masjid permanen yang kemudian dikenal dengan nama At-Taqwa. Sejak saat itu, masjid ini berkembang seiring pertumbuhan kota, melalui berbagai fase renovasi, perluasan, dan perubahan fungsi sesuai kebutuhan zaman. Satu dekade terakhir menjadi tonggak penting dengan renovasi besar-besaran, menjadikan bangunan ini kompleks berlantai tiga, dilengkapi ruang ibadah luas, fasilitas serbaguna di lantai dasar, serta area kegiatan keagamaan yang lebih modern dan tertata.
Kini, Masjid Agung At-Taqwa berfungsi sebagai ruang sosial yang dinamis. Di sini berlangsung kajian rutin, kegiatan remaja masjid, kelas tahfiz, dan berbagai agenda keagamaan sepanjang tahun. Lokasinya yang berada di jantung kota membuat masjid ini seperti denyut nadi yang terus mengikuti aktivitas warganya, dari pagi hingga malam.
Jejak yang Dimulai dari Pesisir Tua Menelusuri lebih jauh, kisah masjid di Balikpapan tidak bisa dilepaskan dari akar sejarah kawasan pesisir barat kota. Di sanalah berdiri Masjid Jami’ Al-Ula, masjid yang diyakini sebagai salah satu yang tertua di Balikpapan.
Masjid ini di bangun di Jalan Letjen Suprapto, Kecamatan Balikpapan Barat. Idul Adha tahun lalu, masjid ini menjadi wadah untuk disembelihnya sapi Presiden Prabowo Subiyanto. Sabi jenis Simental dengan bobot 840 Kilogram itu dinamakan Madu Koro.
Jejak lisan masyarakat menyebutkan cikal-bakal masjid ini telah ada sejak akhir abad ke-19 dibangun para saudagar dan pendatang Muslim yang menetap di wilayah pesisir. Saat kota ini masih berupa kampung kecil dengan rumah kayu berjajar dan aktivitas berpusat di dermaga, rumah ibadah sederhana itu telah menjadi tempat bermusyawarah dan sarana masyarakat menegakkan ajaran Islam.
Bangunan Al-Ula telah melalui beberapa fase renovasi untuk menyesuaikan kebutuhan jamaah yang terus bertambah. Kayu-kayu ulin yang kuat, bentuk bangunan tradisional, dan suasana khas masjid tua tetap dipertahankan, menjadi pengingat sebelum gedung bertingkat dan jalan-jalan besar hadir, Balikpapan pernah tumbuh dari perkampungan religius yang sederhana. Beberapa kisah turun-temurun menyebut masjid ini pernah terhindar dari kebakaran besar maupun situasi genting masa perang, cerita yang membuat masyarakat memandangnya sebagai bagian dari identitas lokal.
Hingga kini, tradisi pengajian, peringatan hari besar, tadarus, dan silaturahmi masih berlangsung seperti dulu. Di antara hiruk pikuk modernisasi kota, Al-Ula menjadi saksi bisu akar spiritual masyarakat Balikpapan telah tumbuh jauh sebelum industri dan pembangunan mencuat.
Satu Kota, Tiga Zaman, dan Ramadan yang Menyatukan Balikpapan Islamic Center, At-Taqwa, dan Al-Ula kini menjadi simbol fase perjalanan spiritual Balikpapan, dari kampung pesisir yang religius, ke kota yang berkembang pesat, hingga kawasan metropolitan yang menghadirkan ikon-ikon baru. Ketiganya berdiri untuk generasi berbeda, namun saling terhubung dalam satu benang merah yaitu memperkuat nilai-nilai keimanan warga kota minyak.
Kini, memasuki Ramadan 1447 Hijriah / 2026 Masehi, ketiga masjid itu tetap berdenyut hidup. Malam-malam tarawih di Islamic Center dipenuhi jamaah, lantai dua dan tiga At-Taqwa ramai oleh tadarus, dan lorong kayu Al-Ula tetap hangat oleh lantunan ayat suci.
Tradisi berbagi takjil, buka puasa bersama, dan kegiatan keagamaan lainnya menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini menghadirkan kehangatan yang sama di tengah perjalanan kota yang terus berubah.
Editor: Erwin