Turnamen sepak bola putri usia dini ini resmi menambah Samarinda dan Banjarmasin sebagai kota penyelenggara, menandai langkah ekspansi MLSC ke Kalimantan.
Dengan masuknya dua kota tersebut, MLSC kini digelar di 12 kota di Indonesia. Sebelumnya, turnamen yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife ini telah berlangsung di sejumlah daerah seperti Semarang dan Tangerang, dan menjadi wadah kompetisi bagi pesepakbola putri kelompok usia 8, 10, dan 12 tahun.
Perluasan wilayah sejalan dengan tren peningkatan jumlah peserta yang terus menanjak. Pada Seri 1 tahun 2024, MLSC diikuti 5.163 peserta. Jumlah tersebut melonjak menjadi 10.051 peserta pada Seri 2 2024, dan kembali meningkat signifikan pada Seri 1 2025–2026 dengan total 17.492 siswi ambil bagian.
Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, menyebut kontinuitas turnamen menjadi fondasi utama pembinaan atlet usia dini. Menurutnya, keberlanjutan kompetisi memberi kepastian jalur pembinaan bagi pemain, sekolah, dan orang tua.
“MLSC dirancang sebagai kompetisi jangka panjang. Setelah Seri 1 berjalan di 10 kota, Seri 2 kami lanjutkan agar para peserta tetap memiliki wadah berkompetisi. Konsistensi ini penting untuk menanamkan kepercayaan bahwa sepak bola putri adalah jalur pembinaan yang serius,” ujar Teddy melalui siaran pers tertulis, Selasa (20/1/2026).
Ia menambahkan, masuknya Samarinda dan Banjarmasin merupakan langkah strategis untuk memperluas basis pembinaan di luar Pulau Jawa.
Potensi sepak bola putri di Kalimantan dinilai besar, terlebih dengan bergabungnya Jacksen Ferreira Tiago sebagai Head Coach MilkLife Soccer Challenge bersama Timo Scheunemann.
“Kami melihat MLSC berdampak langsung pada terbentuknya ekosistem. Sekolah dan SSB putri mulai tumbuh setelah MLSC hadir. Kehadiran sosok seperti Jacksen diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan kualitas peserta,” jelasnya.
Dari sisi sponsor, Group Brand Head Dairy PT Global Dairi Alami, Vanessa Ingrid Pamela, menegaskan bahwa MilkLife Soccer Challenge merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda melalui olahraga.
“MLSC bukan sekadar turnamen, tetapi sebuah gerakan. Dampaknya terasa luas, dari atlet, sekolah, hingga klub dan SSB. Dengan hadir di Samarinda dan Banjarmasin, semakin banyak anak yang terdorong aktif berolahraga dan berani mencetak gol,” tutur Vanessa.
Dukungan penuh terhadap seri Kalimantan juga datang dari Bayan Peduli. Melalui program CSR-nya, Bayan Group melihat MLSC sejalan dengan upaya penguatan pembinaan olahraga, khususnya sepak bola putri.
Direktur PT Bayan Resources Tbk, Merlin, menyatakan bahwa antusiasme peserta dan keterlibatan berbagai pihak menjadi indikator keberhasilan MLSC di sejumlah daerah.
“MLSC adalah ruang strategis untuk mendukung pengembangan atlet muda. Melalui Bayan Peduli, kami ingin memperkuat ekosistem sepak bola putri di Kalimantan dengan mendukung penuh penyelenggaraan MLSC di Samarinda dan Banjarmasin,” ujar Merlin.
Efek kompetisi berjenjang MLSC juga dirasakan langsung oleh pelaku pembinaan di daerah. Founder sekaligus Head Coach SSB None Mude, Leonardo Sedubun, menilai turnamen ini berperan besar dalam pemassalan sepak bola putri.
“SSB None Mude awalnya hanya memiliki 20 atlet setelah MLSC All-Stars 2025. Sekarang jumlahnya sudah sekitar 100 atlet putri. Ini menunjukkan MLSC benar-benar membuka pintu pembinaan,” ungkap Leonardo.
Salah satu peserta, Zilda Afna Syaqila, menyambut antusias Seri 2 MLSC 2025–2026. Peraih gelar juara MLSC Jakarta Seri 1 KU 12 dan top scorer dengan 30 gol itu menjadikan turnamen ini sebagai pijakan untuk mengejar mimpi menjadi pemain tim nasional.
“MLSC membuat saya semakin cinta sepak bola. Dari sini saya belajar banyak dan makin termotivasi untuk latihan agar bisa jadi pemain timnas,” kata Zilda.
Selain pertandingan 7 lawan 7 untuk KU 10 dan KU 12, MLSC juga menghadirkan Festival SenengSoccer untuk KU 8 serta Skill Challenge sebagai pengenalan teknik dasar. Setelah seluruh seri rampung, turnamen akan ditutup dengan MilkLife Soccer Challenge All-Stars 2025–2026 yang digelar Juni 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, dengan format baru 9 lawan 9.
Melalui ekspansi wilayah dan konsistensi kompetisi, MilkLife Soccer Challenge 2025–2026 diharapkan semakin memperkokoh fondasi sepak bola putri Indonesia dan membuka jalan lahirnya talenta-talenta muda dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan.
Editor: Erwin