Di tengah arus informasi yang kian cepat, Kementerian Agama (Kemenag) dinilai perlu mengambil peran lebih aktif dalam memastikan ruang digital diisi oleh pesan-pesan keagamaan yang moderat dan menenangkan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo saat menyampaikan amanat Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dalam peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kemenag di Balikpapan, Sabtu (3/1/2026).
“Kerukunan bukan hanya soal tidak adanya konflik, tetapi bagaimana perbedaan dapat dikelola menjadi kekuatan kolaborasi. Di era AI, pengelolaan narasi keagamaan menjadi semakin penting,” kata Bagus.
Balikpapan memiliki modal sosial yang kuat karena keberagamannya telah lama terawat. Namun ia mengingatkan derasnya arus globalisasi dan teknologi berpotensi memunculkan disinformasi maupun narasi keagamaan yang tidak moderat jika tidak diimbangi dengan literasi digital yang memadai.
Dalam konteks tersebut, Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga produsen konten keagamaan yang kredibel.
"Kehadiran pesan keagamaan yang inklusif, terverifikasi dan berbasis nilai kebangsaan menjadi penting untuk menjaga harmoni sosial," jelasnya.
Bagus juga menyinggung transformasi digital yang telah dijalankan Kemenag, yang menurutnya mulai berdampak pada peningkatan kualitas layanan publik, baik dari sisi kecepatan maupun transparansi. Digitalisasi layanan dinilai perlu diiringi dengan penguatan nilai dan etika agar manfaat teknologi benar-benar dirasakan masyarakat.
Selain itu, program Desa dan Kelurahan Sadar Kerukunan disebut sebagai contoh konkret penerjemahan moderasi beragama ke dalam praktik sosial. Program tersebut dinilai mampu membawa isu kerukunan dari tataran wacana ke kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat.
"Kami harapkan Kemenag mampu memastikan nilai-nilai keagamaan tetap menjadi penyejuk, bukan sumber polarisasi, di tengah perkembangan teknologi dan budaya digital yang semakin kompleks," pungkas Bagus.