Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Japar Sidik, menilai rencana tersebut baik, namun perlu dikaji kembali lantaran kondisi anggaran daerah saat ini harus difokuskan pada program prioritas yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
Menurut Japar, pembangunan tugu memang memiliki nilai positif sebagai ikon kota dan bagian dari pelestarian sejarah.
Namun, ia mengingatkan pemerintah saat ini harus mengedepankan efektivitas penggunaan anggaran. Program yang langsung dirasakan masyarakat, seperti layanan pendidikan dan kesehatan, dinilai lebih mendesak untuk diprioritaskan.
“Tujuannya bagus, tapi sekarang pembangunan harus diarahkan pada skala prioritas sesuai kondisi anggaran. Harus efektif dan langsung bermanfaat bagi masyarakat. Kalau tugu itu penting sebagai ikon, tetapi belum menjadi prioritas,” ujarnya, Kamis (20/11/2025).
Meski demikian, Japar mengakui pembangunan ikon sejarah juga dapat berkontribusi pada peningkatan destinasi wisata kota. Namun, menurutnya, pengembangan potensi tersebut dapat dilakukan ketika kondisi anggaran kembali stabil.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menyampaikan Pemkot berupaya memperkuat pelestarian sejarah lokal agar generasi muda memahami perjalanan kota, termasuk peran Balikpapan pada masa kolonial hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Bagus menegaskan pentingnya situs dan arsip sejarah seperti Sumur Mathilda, situs Goa Jepang, hingga data para pahlawan yang telah diserahkan oleh pihak Kodam. Pemkot berencana mengembangkan kawasan cagar budaya, termasuk pembangunan tugu sejarah, apabila kondisi keuangan daerah memungkinkan.
“Jika anggaran stabil, kita akan mendorong pembangunan tugu hingga pengembangan kawasan cagar budaya,” tandasnya.
Selain pengembangan wisata sejarah, Pemkot juga memastikan komitmen untuk memperhatikan kesejahteraan veteran, termasuk pemberian bantuan pada peringatan Hari Pahlawan dan layanan BPJS Kesehatan gratis.
Editor: Erwin