Koordinator lapangan Basarnas Balikpapan, Ramadhani mengatakan laporan kejadian diterima pihaknya sekitar pukul 18.00 Wita. Begitu menerima informasi, tim langsung menuju lokasi dan melakukan pencarian awal di sekitar titik korban dilaporkan hilang.
“Kami langsung ke sini setelah menerima laporan sore kemarin. Awalnya kami lakukan penyisiran dengan metode rantai manusia di sepanjang bibir pantai, tapi hasilnya masih nihil,” jelas Ramadhani saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (11/11/2025).
Malam harinya, pencarian dilanjutkan menggunakan alat bantu pisep atau pancing rawai untuk menjaring korban di area sekitar lokasi. Namun hingga pukul 21.00 Wita, hasilnya tetap nihil.
“Pagi tadi sekitar jam 7, pencarian kami lanjutkan lagi dengan menyisir radius satu kilometer di sekitar lokasi kejadian. Sementara ini korban belum ditemukan,” tambahnya.
Menurut Ramadhani, kendala utama yang dihadapi tim adalah kondisi ombak yang cukup tinggi sehingga penyisiran tidak bisa dilakukan terlalu jauh ke tengah laut. Meski begitu, pencarian tetap dilakukan secara maksimal dengan melibatkan sejumlah unsur gabungan.
Dalam pencarian itu, Basarnas menurunkan empat unit perahu karet, dua speedboat, satu unit polyteline, serta dukungan satu rig dari TNI Angkatan Laut dalam operasi pencarian. Selain itu, tim dari BPBD Balikpapan, relawan SAR, dan masyarakat setempat turut membantu proses penyisiran di sepanjang garis pantai.
Dari informasi yang dihimpun, Khairul bersama beberapa rekannya diketahui melompat dari dermaga di kawasan Pantai Kemala sebelum diduga tenggelam. Terlihat tak jauh dari dermaga itu diberikan garis polisi.
Sementara itu, ibu korban, Mudiah, menuturkan sebelum kejadian anaknya berpamitan hendak berenang bersama teman-temannya. Ia mengaku tidak menyangka anaknya akan pergi ke pantai, apalagi diketahui tidak bisa berenang.
“Dia bilang mau ke pantai, mau berenang sama teman-temannya. Padahal dia itu nggak bisa berenang,” ucap Mudiah.
Mudiah juga menceritakan, sehari sebelum kejadian Hairul sempat kehilangan telepon genggamnya. Ia berusaha mencarinya, namun tidak ketemu. Lantas, Mudiah mengklaim sang anak hendak menenangkan diri dengan pergi berenang.
Menurutnya, Hairul sempat tidak melanjutkan sekolah karena dirinya sakit. “Tapi dia sempat bilang mau sekolah lagi, cuma katanya malu karena sudah besar,” kenangnya.
Editor: Erwin