Setiap gerak mereka terukur, setiap prosedur dijalankan. Di sinilah keselamatan bukan sekadar aturan, tapi sudah menjadi budaya kerja.
Sebagai proyek strategis nasional dengan kompleksitas tinggi, RDMP Balikpapan dan Lawe-Lawe menempatkan aspek Kesehatan, Keselamatan, Keamanan, dan Lingkungan (HSSE) sebagai prioritas utama.
Lebih dari 24 ribu tenaga kerja diwajibkan mengenakan seragam coverall sebelum memasuki kawasan proyek. Warnanya abu-abu berpadu kuning, lengkap dengan reflektor cahaya.
Setiap pekerja juga membawa kartu identitas, memakai helm pelindung, dan sepatu keselamatan.
Larangan membawa telepon seluler berlaku ketat di area kerja. Bagi mereka, Alat Pelindung Diri (APD) bukan beban, tetapi perisai kehidupan.
KESELAMATAN LEBIH UTAMA
Dedi Junaedi, seorang pekerja dari subkontraktor RDMP, tersenyum ketika ditanya tentang pekerjaannya.
“Pekerjaan di dalam kawasan kilang baik, status pekerjaan juga baik. Kalau gaji sekitar lima jutaan,” ujarnya usai makan siang di warung dekat bundaran Karang Anyar, Senin (26/10/2025).
Dedi menegaskan bahwa keselamatan adalah hal yang tak bisa ditawar. “Teknik kerjanya dijaga ketat. Semua detail, semua spesifik,” katanya.
Dedi juga sebagai mandor. Ia bertanggung jawab memastikan rekan-rekannya aman di ketinggian bahkan hingga ruang sempit kilang.
“Bagi pekerja memang terasa ribet, tapi demi keselamatan. Harus patuh aturan,” tegasnya.
Tim HSSE Pertamina selalu memantau setiap aktivitas di kawasan proyek. “Orang safety belum datang, ya kami belum bisa kerja. Pernah kejadian begitu,” sambungnya.
Meski pekerjaan penuh tekanan, Dedi tetap menjalani dengan bangga. Ia simpan rindunya rapat-rapat dalam relung hati. Anak dan istrinya ada di Banten, Jawa Barat. Ya, Dedi berasal dari sana.
“Pasti capek dan kangen keluarga. Tapi ini proyek besar, saya ingin jadi bagian sejarah,” ucapnya lirih.
DAMPAK EKONOMI DAN SOSIAL
Pemilik Warung Nasi Kuning Subuh, Ummi Kaltsum (celemek hijau)
menyiapkan pesanan nasi kuning untuk pelanggannya. Tampak sebelah kiri,
seorang sekuriti Pertamina usai menikmati sarapan. (Foto:
Hendra/Korankaltim.com)
Proyek RDMP tak hanya mengubah wajah industri energi, tapi juga kehidupan ekonomi masyarakat sekitar Kilang RU V Balikpapan.
Di luar pagar proyek, denyut ekonomi warga ikut bergerak seiring pembangunan kilang. Warung-warung sederhana di sekitar kawasan RDMP Balikpapan kini kembali hidup sejak pagi buta.
Ummi Kaltsum, pemilik Warung Nasi Kuning Subuh, tersenyum saat menceritakan kesibukannya. Warungnya berada di Jalan Letjen Suprapto, kawasan Karang Anyar.
“Saya penerus orangtua, sudah jualan nasi kuning sejak tahun 1990,” ujarnya sambil menyiapkan pesanan pelanggan.
Warungnya buka sejak pukul lima subuh hingga sembilan pagi. “Memang jualannya khusus subuh. Sejak ada proyek RDMP, Alhamdulillah, pengaruhnya terasa,” kata Ummi.
Setiap pagi, para pekerja RDMP singgah sarapan sebelum masuk kerja. “Banyak juga yang jadi langganan. Rata-rata omzet sekarang dua juta rupiah per hari,” ujarnya dengan nada syukur.
Tak jauh dari situ, tepat di seberang warung Nasi Kuning Subuh, ada Warung Kopi (Warkop) Cabondeng. Aroma kopi menyapa dari dalam warkop yang dikelola oleh Maulana.
“Omzet lumayan naik sejak ada proyek RDMP. Biasanya pekerja datang siang hari, ngopi pas waktu istirahat,” ceritanya.
Kopinya punya cita rasa khas, campuran arabika dan robusta yang diracik sendiri. “Ini kopi andalan kami, favorit pelanggan,” kata Maulana sambil menuangkan air panas ke teko logam.
Setiap hari, omzet warungnya bisa mencapai satu setengah juta rupiah. Ia dibantu sang mertua yang menyiapkan gorengan dan mi instan untuk menemani pelanggan.
“Di sini kami kerja berdua saja, tapi rezeki alhamdulillah lancar,” tuturnya.
LANGKAH BESAR MENUJU KEDAULATAN ENERGI
Proyek RDMP Balikpapan dan Lawe-Lawe adalah amanat pemerintah melalui Perpres Nomor 109 Tahun 2020. Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) dengan nilai investasi 7,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp123 triliun.
Sumber pendanaannya terdiri dari ekuitas 4,3 miliar dolar dan pinjaman 3,1 miliar dolar dari Export Credit Agency.
Selain menyerap 24 ribu tenaga kerja, proyek ini mencatat Tingkat Komponen Dalam Negeri 35 persen dan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar Rp514 triliun.
Hingga awal Oktober 2025, progres fisik proyek mencapai 96,61 persen. Beberapa unit utama telah beroperasi, termasuk pembangkit listrik, ketel uap, dan fasilitas revamping pengolahan minyak mentah.
VP Legal and Relation PT Kilang Pertamina Balikpapan, Asep Sulaeman, menjelaskan bahwa proyek ini kini memasuki tahap akhir pembangunan.
“Dampak positif proyek sudah mulai terasa, baik dalam efisiensi kilang maupun penguatan pasokan energi nasional,” kata Asep.
Fasilitas utama yang sudah aktif meliputi unit pengolahan gas Senipah–Balikpapan, ruang kendali utama, unit LPG, tangki penyimpanan minyak mentah 1 juta barel di Terminal Lawe-Lawe, serta pipa bawah laut dan sistem tambat kapal.
Kilang ini meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari. Kualitas produknya kini setara standar Euro V, lebih bersih dan ramah lingkungan. Produksi LPG ikut meningkat tajam dari 48 ribu menjadi 384 ribu ton per tahun.
“RDMP Balikpapan adalah upaya menciptakan kemandirian energi bangsa,” ujar Asep.
Selain memperkuat pasokan energi nasional, RDMP membawa efisiensi besar pada logistik crude oil atau minyak mentah. Dengan beroperasinya terminal Lawe-Lawe dan jaringan pipa bawah laut, biaya transportasi berkurang signifikan.
“Setiap pipa dan tangki yang kami bangun membawa makna keberlanjutan. Kami ingin kilang ini menjadi simbol efisiensi dan kedaulatan energi nasional,” tambahnya.
Lebih dari sekadar proyek industri, RDMP Balikpapan adalah kisah kerja keras ribuan insan energi.
Dari Lawe-Lawe hingga Senipah, dari pipa baja hingga tangan para operator, semuanya melangkah aman di tanah energi untuk mewujudkan kedaulatan negeri. (*)