Kepala BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Kukuh Ribudiyanto menjelaskan, dua wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus adalah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) dan Kutai Kartanegara, lantaran berpotensi diguyur hujan dengan intensitas tinggi selama periode Dasarian II Oktober 2025.
“Di daerah itu, curah hujan di dua daerah itu bisa mencapai 150 hingga 200 milimeter per dasarian,” kata Kukuh kepada Korankaltim.com Senin (13/10/2025).
Kondisi ini dipicu oleh kombinasi faktor global dan regional, antara lain fenomena ENSO netral di Samudra Pasifik dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif di Samudra Hindia.
“Keduanya meningkatkan pasokan uap air yang berkontribusi pada pembentukan awan hujan di wilayah Kalimantan Timur,” jelasnya.
BMKG mencatat intensitas hujan di sejumlah daerah meningkat sejak akhir September, termasuk di Balikpapan, Samarinda, Kutai Timur, Kutai Barat, Paser, Penajam Paser Utara dan Berau.
Masyarakat diminta waspada terhadap bencana hidrometeorologi, seperti banjir, genangan air dan tanah longsor, terutama di kawasan rawan.
“Curah hujan tinggi bisa berdampak pada aktivitas masyarakat. Karena itu, kami mengimbau agar masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan saluran air tetap lancar,” sebut Kukuh.
Pemerintah daerah juga diminta untuk meningkatkan koordinasi lintas sektor guna mengantisipasi potensi gangguan akibat cuaca ekstrem.
“Puncak musim hujan diperkirakan berlangsung antara Desember hingga Januari. Jadi langkah mitigasi sebaiknya mulai dilakukan dari sekarang,” tutupnya.
Editor: Aspian Nur