Pernyataan ini menanggapi temuan seorang oknum siswa SMA di Balikpapan yang dilaporkan telah terpapar ideologi radikal hingga diduga mampu merakit bom.
Gasali menilai kasus tersebut menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi demi menjaga generasi muda dari ancaman ideologi berbahaya.
“Salah satu mitra kita adalah Dinas Pendidikan. Kita berharap semua stakeholder terlibat aktif. Pelajar ini punya dua lingkup pengawasan, di sekolah menjadi tanggung jawab guru dan kepala sekolah, di rumah menjadi tanggung jawab orang tua. Karena itu wali murid, guru, dan kepala sekolah harus sering berkomunikasi mengenai perkembangan anak-anak kita,” ujarnya Jumat (3/10/2025).
Ia menegaskan, komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah dapat menjadi langkah preventif agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
“Kalau ada informasi terkait anak-anak yang terpapar paham radikal, harus segera ditindaklanjuti bersama. Koordinasi antara wali murid, sekolah, dan komite sekolah perlu diperketat. Hal seperti ini jangan sampai lagi terjadi di Kota Balikpapan,” tegasnya.
Gasali menambahkan, pencegahan radikalisme pada pelajar bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh elemen masyarakat.
Sebelumnya, Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mengungkapkan adanya seorang siswa SMA yang terindikasi terpapar radikalisme saat menghadiri peringatan Hari Aksara Indonesia di BSCC Dome, Kamis (2/10/2025).
Rahmad menyebut, media sosial menjadi salah satu pintu masuk penyebaran ideologi tersebut. Karena itu, ia mengimbau orang tua untuk lebih aktif mengawasi aktivitas anak-anak di dunia maya maupun di lingkungan sekitar.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan, Irfan Taufik, membenarkan kasus ini dan memastikan siswa tersebut sudah ditangani pihak terkait.
“Iya benar, ada satu orang pelajar. Tapi sekolahnya kami rahasiakan. Yang jelas anak itu sudah ditangani,” pungkasnya.
Editor: Erwin