Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto menyatakan bahwa hal itu tak lepas dari masa transisi dari kemarau menuju ke musim penghujan.
Bahkan BMKG mencatat sebagian besar wilayah provinsi ini telah diguyur hujan sejak beberapa bulan terakhir sehingga pola iklim tahun ini berbeda dari biasanya.
“Analisis kami menunjukkan sebagian besar Kaltim sepanjang tahun ini berada dalam kondisi hujan, sehingga kemarau hampir tidak terasa,” jelasnya kepada Korankaltim.com, Selasa (30/9/2025).
Wilayah yang tercatat kerap diguyur hujan meliputi Kabupaten Berau, Kutai Timur bagian timur, Kutai Barat, Mahakam Ulu, serta sebagian Kutai Kartanegara.
Sementara itu, daerah yang baru memasuki musim hujan pada Oktober ini adalah Kutai Kartanegara bagian tengah dan sebagian kecil Kutai Timur bagian tengah.
Adapun kawasan yang sudah lebih dulu diguyur hujan sejak akhir Agustus antara lain Penajam Paser Utara, Kota Balikpapan, dan Kutai Kartanegara bagian selatan.
Kemarau mulai melanda Kaltim sejak Juli lalu, dan diperkirakan berakhir mulai dari Agustus hingga Oktober mendatang, namun Kukuh menyebut untuk kemarau yang melanda tahun ini masuk kategori kemarau basah.
Untuk itu ia juga menilai kondisi ini membuat 2025 dikategorikan sebagai tahun basah, dengan intensitas hujan yang cenderung meningkat menuju puncaknya pada Desember hingga Januari di sebagian besar wilayah Kalimantan Timur.
“Terkecuali untuk PPU dan Kukar bagian selatan, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung lebih lama hingga April 2026,” ungkapnya
Menurut BMKG, pola ini menunjukkan perlunya kewaspadaan ekstra, mengingat curah hujan tinggi sering memicu bencana hidrometeorologi.
“Dengan kondisi ini masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah rawan banjir maupun longsor. Lingkungan sekitar harus dijaga agar tetap aman menghadapi musim hujan panjang,” pintanya.
Editor: Erwin