Hal ini disampaikannya saat menutup rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-45 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di BSCC Dome, Balikpapan, Jumat (11/7/2025) hari ini.
Tito menyoroti ketahanan sektor UMKM di tengah krisis, seperti yang terlihat saat pandemi COVID-19 seperti Yogyakarta yang berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi positif berkat kekuatan sektor ini.
“UMKM, termasuk kerajinan tangan, terbukti mampu bertahan saat sektor-sektor besar melemah. Ini karena mereka menyentuh kebutuhan dasar dan menciptakan lapangan kerja luas,” ujar Tito.
Potensi pasar kerajinan dunia saat ini mencapai hampir Rp360 Triliun. Namun meskipun Indonesia dikenal dengan kekayaan produk kerajinan yang tinggi, negara ini masih belum menembus jajaran 10 besar pengekspor produk kerajinan dunia. Negara-negara seperti India, Tiongkok, Vietnam dan Thailand justru mendominasi.
“Indonesia unggul dalam keragaman, tapi masih kalah dalam penguasaan pasar. Ini tantangan besar yang harus kita jawab bersama,” sebut Tito lagi.
Produk-produk kerajinan seperti dekorasi rumah, lilin hias, kerajinan kayu, tenun dan perhiasan disebut memiliki peluang besar untuk menembus pasar internasional.
Kalimantan Timur disebut memiliki potensi besar namun masih memerlukan penguatan dan pendampingan.
“Saya harap Kaltim bisa lebih mendorong UMKM agar naik kelas. Dukungan dari kepala daerah menjadi kunci,” ujar Tito kepada Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan jajarannya.
Tito juga mengingatkan UMKM berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Artinya, membina sektor ini bukan hanya soal pemberdayaan ekonomi rakyat tetapi juga strategi nasional dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Tito mengapresiasi kerja keras panitia dan pemerintah daerah, khususnya Kota Balikpapan, yang menjadi tuan rumah kegiatan nasional ini.
“Kegiatan ini punya dampak besar, bukan hanya promosi budaya dan kerajinan, tapi juga penggerak ekonomi daerah,” tutup Tito.
Editor: Aspian Nur