Senin, 07/07/2025

Puncak Kemarau Diperkirakan Juli-Agustus, Gubernur Minta Cegah Karhutla dengan Disiplin dan Komitmen

Senin, 07/07/2025

Gubernur Harum, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dan Wali Kota Balikpapan Rahmat Mas'ud meneguhkan komitmen untuk mencegah karhutla. (Foto: RIAN/ADPIMPROV KALTIM)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Puncak Kemarau Diperkirakan Juli-Agustus, Gubernur Minta Cegah Karhutla dengan Disiplin dan Komitmen

Senin, 07/07/2025

logo

Gubernur Harum, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dan Wali Kota Balikpapan Rahmat Mas'ud meneguhkan komitmen untuk mencegah karhutla. (Foto: RIAN/ADPIMPROV KALTIM)

KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN - Menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Juli hingga Agustus 2025, Gubernur Kalimantan Timur H Rudy Mas’ud (Harum) menegaskan pentingnya upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai langkah utama meminimalkan bencana.

Hal ini disampaikan Gubernur saat membuka kegiatan Konsolidasi Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Pengendalian Kebakaran Lahan yang digelar di Hotel Novotel Balikpapan, Jumat (4/7/2025) lalu. 

Acara ini diinisiasi oleh Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq dan perwakilan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki).

“Penyebab karhutla di Indonesia, 99 persen  karena ulah manusia. Artinya, pencegahan bisa kita lakukan bersama. Ini soal perilaku, disiplin dan komitmen,” tegas Gubernur Harum.

Menurutnya, walau para petugas selalu mengusung semangat “pantang pulang sebelum padam”, namun pencegahan tetap jauh lebih penting daripada sekadar pemadaman.

“Pencegahan adalah kunci utama menyelamatkan lingkungan dari bahaya kebakaran lahan,” seru Gubernur yang juga pernah menjabat anggota DPR RI itu.

Gubernur juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam penanggulangan karhutla. Dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat disebut harus bahu-membahu menghadapi ancaman ini. Apalagi Kalimantan Timur sebagai wilayah rawan kebakaran lahan gambut dan hutan sekunder.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Hanif Faisol Nurofiq mengapresiasi tren positif penurunan jumlah titik api di Kalimantan Timur.

“Sampai pertengahan tahun ini, jumlah titik api hanya 15 titik. Angka ini turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ungkapnya.

Penurunan ini tidak lepas dari kondisi iklim Kaltim yang masih ditopang oleh curah hujan yang cukup tinggi, serta peningkatan kesadaran bersama dalam menjaga lingkungan.

Meski demikian, ia mengingatkan agar dunia usaha, khususnya sektor perkebunan sawit yang tergabung dalam Gapki, tidak lengah dan tetap mempersiapkan skema pencegahan yang matang.

“Pengusaha harus menyiapkan sarana, prasarana, pendanaan dan pelibatan masyarakat melalui kelompok masyarakat peduli api. Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri,” tegas Menteri Hanif.

Dirinya juga meminta agar sistem deteksi dini dan pelaporan titik api ditingkatkan, termasuk pelatihan rutin kepada petugas lapangan agar sigap menangani kebakaran sejak dini. (*/gie/sul/ky)

Puncak Kemarau Diperkirakan Juli-Agustus, Gubernur Minta Cegah Karhutla dengan Disiplin dan Komitmen

Senin, 07/07/2025

Gubernur Harum, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq dan Wali Kota Balikpapan Rahmat Mas'ud meneguhkan komitmen untuk mencegah karhutla. (Foto: RIAN/ADPIMPROV KALTIM)

Share

Berita Terkait