Proyek yang dibangun di atas lahan 11,7 hektare milik Pemkot ini diharapkan menjadi simpul logistik strategis untuk mendorong investasi dan memperkuat sektor distribusi barang antarwilayah.
Kepala Dinas Perhubungan Balikpapan, Muhammad Fadli Fatturahman mengatakan terminal ini tidak hanya menjadi jawaban atas permasalahan kemacetan dan parkir liar truk besar, tetapi juga akan membuka peluang besar di sektor logistik perkotaan yang selama ini kurang terfasilitasi.
"Selama ini, pengembangan infrastruktur lebih banyak fokus pada terminal penumpang. Sekarang kami beralih memperkuat sistem logistik untuk mendukung perekonomian daerah," ujarnya, Kamis (26/9/2025).
Pembangunan terminal ini akan menggunakan skema kerja sama antara pemerintah pusat, provinsi dan kota, dengan estimasi anggaran awal sekitar Rp30 miliar. Master plan telah tersedia dan saat ini dalam tahap finalisasi penganggaran lintas instansi.
Fadli menjelaskan, fasilitas ini tidak hanya akan menjadi tempat parkir truk, tetapi juga dilengkapi dengan sistem bongkar muat yang modern serta pusat distribusi barang. Dengan konsep terintegrasi, terminal ini dirancang menjadi simpul logistik utama di Kalimantan Timur bagian selatan.
“Kehadiran terminal ini akan memperkuat konektivitas perdagangan dan memberi kemudahan bagi pelaku usaha logistik, yang pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi kota,” jelasnya.
Selain itu, terminal di KM 13 ini juga ditargetkan untuk mengurangi ketergantungan Balikpapan sebagai kota lintasan logistik. Dengan tersedianya infrastruktur logistik representatif, Kota Balikpapan diharapkan mampu menjadi pusat distribusi dan logistik regional yang mandiri.
"Kita perlu mengubah cara pandang bahwa kota ini bukan sekadar jalur lewat barang, tetapi titik simpul aktivitas ekonomi logistik yang bernilai tinggi," pungkasnya.
Editor: Erwin