Aksi ini merupakan bentuk protes atas kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan masalah distribusi Gas LPG yang semakin meresahkan masyarakat.
Humas aksi, Maha Sakti Esa Jaya menyampaikan bahwa keresahan warga muncul akibat kelangkaan BBM yang menyebabkan gangguan ekonomi dan aktivitas harian masyarakat.
“Kelangkaan BBM ini sangat merugikan, bukan hanya secara ekonomi, tetapi juga waktu dan tenaga masyarakat terbuang. Ini bukan hanya masalah Pertalite dan Pertamax, tapi juga kelangkaan gas LPG,” ujarnya kepada awak media.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun Balikpapan dikenal sebagai kota minyak dan menjadi lokasi kilang besar Pertamina, masyarakat justru masih mengalami kesulitan dalam memperoleh BBM, terutama jenis subsidi seperti Pertalite.
“Dari 18 titik SPBU yang ada, hanya sebagian kecil yang menyediakan Pertalite. Bahkan ada SPBU yang menjual Pertalite, tetapi tidak diperuntukkan bagi kendaraan roda dua,” jelas Maha.
Aliansi Kota Minyak terdiri dari berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa. Mereka mendesak pemerintah untuk menghadirkan seluruh pihak terkait, termasuk General Manager Pertamina, guna membahas dan menyelesaikan permasalahan distribusi energi di Balikpapan.
Dalam aksi tersebut, massa membawa sejumlah spanduk dan menyuarakan tujuh tuntutan utama yang ditujukan kepada pemerintah dan Pertamina diantaranya.
1. Mendesak pemerintah untuk mencopot Direktur Umum Pertamina Balikpapan.
2. Mendesak Pertamina segera menyelesaikan persoalan kelangkaan BBM di Balikpapan.
3. Mendesak pemerintah menambah sarana dan prasarana distribusi BBM.
4. Mendesak agar SPBU di Balikpapan beroperasi selama 24 jam.
5. Mendesak Pertamina membuka data pasokan BBM di Kota Balikpapan secara transparan.
6. Menuntut pemerintah dan DPRD melakukan audit menyeluruh terhadap pasokan BBM.
7. Mendesak pengaturan lalu lintas agar tidak terjadi penumpukan kendaraan selama masa krisis BBM.
Editor: Erwin