Kepala Dishub Balikpapan Adwar Skenda Putra menjelaskan, angkot kini berada dalam posisi yang sulit karena bersaing dengan taksi online yang lebih murah dan lebih diminati masyarakat.
“Angkot saat ini harus beradaptasi dengan sistem transportasi baru agar dapat bersaing. Kami telah merencanakan untuk mengubah angkot menjadi angkot online, namun hal ini terkendala oleh kurangnya SDM (Sumber Daya Manusia) yang siap bertransformasi serta kemauan sopir angkot untuk mengikuti perubahan,” papar Adwar kepada Korankaltim.com Senin (16/12/2024).
Meskipun Dishub sudah menyediakan berbagai fasilitas dan regulasi untuk mendukung angkot, banyak sopir yang belum siap mengikuti perubahan tersebut. “Seberapa besar pun kami membangun sistem transportasi, jika sopir tidak mengikuti regulasi yang ada, semua usaha akan sia-sia,” ungkapnya.
Angkot di Balikpapan diakui Adwar kini semakin menua, baik dari sisi kendaraan maupun pengemudi. Dulu angkot merupakan satu-satunya sarana transportasi yang tertib dan patuh terhadap aturan namun kondisi tersebut telah berubah. “Angkot dulu berada dalam koridor yang nyaman, namun kini banyak yang sudah tua dan tidak disiplin lagi,” papar Adwar.
Dishub telah berusaha untuk memperkenalkan sistem konsorsium angkot, dimana beberapa sopir angkot dapat bergabung untuk membentuk badan hukum yang lebih terorganisir, seperti yang sudah dilakukan oleh perusahaan transportasi online. Namun hambatan besar yang dihadapi adalah banyaknya sopir angkot yang masih beroperasi secara individu tanpa status badan hukum.
“Banyak yang belum mau bergabung dalam konsorsium. Jika tidak maka yang akan masuk adalah perusahaan besar, dan kami tidak ingin itu terjadi. Kami ingin para pelaku bisnis angkot ini juga yang terlibat dalam pengelolaannya,” ucap Adwar lagi.
“Tantangan terbesar kami adalah membangkitkan kesadaran di kalangan sopir angkot, yang seringkali menolak perubahan dengan berbagai alasan,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur