Pemilik rumah, Sri Wahyono mengatakan kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 07.00 WITA, saat hujan mengguyur kawasan tersebut sejak subuh. Kemudian pada pukul 06.00 WITA, ia mendengar suara kayu patah dan atap seng yang berisik.
"Sebelum longsor sudah ada bunyi-bunyi keras kayu yang patah, seng yang bunyi-bunyi berisik. Kami tahu sumbernya dari mana, jadi langsung menginformasikan warga yang berada di bawah untuk mengevakuasi motor dan mobil mereka," kata Sri kepada Korankaltim.com.
Teras tersebut ditopang siring sepanjang 8 meter dengan ketinggian 4 meter. Sebelum longsor, Sri juga mengaku bahwa kondisi nya sudah sempat miring. "Karena hujan ini tadi, jadi ambruk," ujarnya.
Pemilik rumah yang terdampak, Darmawan juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat menyelamatkan kendaraannya sebelum teras milik Sri Wahyono tersebut ambruk.
"Untungnya kendaraan sudah sempat saya tarik dan pindah, Alhamdulillah selamat. Kalau korban jiwa, Alhamdulillah nggak ada. Kami sekeluarga yang tinggal di sini ada lima orang," kata Darmawan.
Darmawan juga menjelaskan bahwa area yang terkena longsor merupakan pendopo yang sering digunakan warga untuk berbagai kegiatan, seperti Posyandu dan pemotonhan daging pada Hari Raya Kurban.
“Pendoponya sering dipakai untuk kegiatan warga. Longsoran dari teras di atas menimpa pendopo ini,” tambahnya.
Kasi Trantib Kelurahan Gunung Sari Ulu, Muhammad Ridho mengatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan pada pukul 07.00 WITA dan segera melakukan langkah penanganan sementara dengan membantu membersihkan sisa material longsor.
"Kami sudah melakukan pembersihan dan memasang terpal di lokasi. Untuk tindak lanjut, akan dilakukan oleh BPBD. Kami juga menghimbau pemilik rumah untuk segera memperbaiki teras tersebut karena ini fasilitas pribadi, bukan fasilitas umum," singkat Ridho.
Editor: Supiansyah