Aksi damai dilakukan dengan membentangkan spanduk bertuliskan "Kami masyarakat pengguna transportasi umum sangat membutuhkan bus Bacitra. Kami ingin transportasi yang aman dan nyaman, bukan yang ugal-ugalan dan tidak taat aturan".
Kurniawati, satu dari anggota aksi massa mengungkapkan dukungan terhadap keberadaa Bacitra di Balikpapan sangat besar, terutama di media sosial.
"90 persen komentra warganet di media sosial mendukung Bacitra. Ini yang mendorong kami melakukan aksi damai untuk menyuarakan keinginan masyarakat agar Bacitra tetap beroperasi," kata Kiki, sapaan akrab Kurniawati kepada Korankaltim.com disela aksi.
Aksi ini untuk memastikan suara dukungan masyarakat terhadap Bacitra terdengar oleh pemerintah. Menurutnya, narasi yang selama ini muncul di publik cenderung didominasi oleh penolakan para sopir angkutan kota (angkot). "Sudah saatnya kita yang mendukung keberadaan Bacitra," tegasnya.
Dalam aksi damai tersebut, warga juga menyamapaika harapan agar para sopir bus Bacitra yang bekerja terhindar dari tindakan-tindakan intimidasi, terutama dari para sopir angkot yang beberapa hari lalu terjadi.
Mereka juga meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Balikpapan untuk bertindak tegas dalam menyelesaikan konflik tersebut serta mencari solusi yang adil bagi seluruh pihak.
Meski tegas mendukung, warga juga tak ingin angkot dihilangkan. Kiki beranggapan keberadaan kedua moda transportasi tersebut bisa beroperasi bersamaan dengan penataan ulang. "Kami tidak ingin angkot dihilangkan, tetapi harus ditata ulang agar lebih baik," tegas Kiki.
Mereka juga menyoroti perilaku sopir angkot yang sering kali ugal-ugalan dan merokok saat mengemudi, yang membuat penumpang merasa tidak nyaman, terutama anak-anak dan perempuan.
Sebaliknya, Kiki menilai Bacitra lebih aman dan nyaman, dengan fasilitas seperti pendingin udara, tempat duduk yang luas, serta sopir yang terlatih. Kehadiran Bacitra, katanya, memberikan pilihan transportasi yang lebih baik bagi warga Balikpapan.
"Keberadaan Bacitra sangat membantu kami yang membutuhkan transportasi umum yang layak," tutup Kiki.
Editor: Aspian Nur