Wakil Ketua DPD RI Mahyudin yang hadir pada acara ini menyoroti ketergantungan ekonomi Kaltim pada sektor pertambangan yang menyumbang 53 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). "Ketergantungan pada tambang ini harus diantisipasi. Jika tambang habis Kaltim harus siap dengan alternatif lain," kata Mahyudin.
Sumber daya alam seperti tambang dan galian sudah seharusya bertumpu pada sumber daya manusia yang perlu diprioritaskan, contohnya dua negara yang tak memiliki sumber daya alam namun mampu menguasai pasar yakni Singapura dan Swiss.
Singapura bisa menjadi negara pengekspor minyak mentah, padahal mereka tidak memiliki sumber minyak. “Jadi sumur minyak dari Ajarbaizan mereka borong semuanya. Pilih kontrak beli mereka. Begitu Indonesia mau beli minyak di Ajarbaizan, maka Ajarbaizan mengatakan minyaknya sudah dibeli oleh Singapura, maka silahkan membeli dengan Singapura,” paparnya.
Begitu juga dengan Swiss yang tidak memiliki tambang emas, namun bisa menjadi negara pengekspor emas terbesar di Eropa. "Swiss hanya bertugas memurnikan emas yang belum murni. Lalu diekspor ke beberapa negara di seluruh dunia. Dan emas dari Swiss terkenal sangat baik atau emas murni,” tambah Mahyudin.
Mahyudin optimistis IKN akan membawa banyak manfaat bagi Kaltim, seperti peningkatan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Ia mendorong pengembangan kota-kota modern di sekitar IKN untuk memaksimalkan manfaat dari pemindahan ibu kota tersebut.
Menanggapi anggapan bahwa IKN akan mengabaikan daerah sekitar Mahyudin menegaskan fokus awal memang pada pembangunan infrastruktur dasar IKN, namun daerah penyangga akan mendapatkan perhatian berikutnya. "Pemerintah provinsi harus proaktif dalam melobi dan mencari peluang, bukan hanya menunggu," ucap Mahyudin.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Dharma Wirawan Kalimantan Timur Rendi S Ismail mengharapkan mahasiswa dapat memberikan masukan yang konstruktif selama FGD ini. "Semoga mahasiswa mendapatkan wawasan yang lengkap mengenai transformasi ekonomi Kaltim pasca IKN," harap Rendi.
Editor: Aspian Nur