Selain petugas Kemenag, rukyatul hilal juga turut dihadiri perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga Dewan Masjid Indonesia (DMI).
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Balikpapan, Rasmid mengatakan, berdasarkan pantauanya pada Minggu (10/3/2024) hari ini untuk hilal belum terlihat. Hal tersebut dikarenakan faktor ketinggian hilalnya di bawah 1 derajat dan pandangan yang tertutup awan tebal.
"Jadi dua faktor tersebut yang menyebabkan hilal tidak terlihat. Ini tidak hanya terjadi di Balikpapan, hampir seluruh Indonesia kebanyakan melalui live streaming juga tidak kelihatan. Dan memang ketinggian hilalnya di bawah 1 derajat, bahkan di Sumatera saja, 0,8 derajat, sehingga tidak terobservasi dengan baik," jelasnya.
Dia menerangkan, ketinggian hilal pada 0,33 derajat tersebut terjadi pada pukul 18.26 WITA. Begitu matahari terbenam, bulannya hanya 6,33 dan itupun tak lama dari zonanya dengan kurang lebih 2 menitan.
"Kemungkinan besok kemunculannya 1,71 dan ketinggian hilalnya 12 sekian drajat ketinggian hilalnya . Dan umur bulannya sudah 25 jam. Kemungkinan besok hilalnya baru terlihat. Dan prediksi BMKG cuaca cerah," bebernya.
Dia menambahkan, untuk menetapkan tanggal 1 Ramadan menggunakan dua pola yakni hisab dan rukyat. Kalau hisab bedasarkan perhitungan, dan tadi sore pukul 17.00 WITA terjadi konjungsi dari bulan lama ke bulan yang baru. Jadi sekarang bulan baru sudah 1 jam. Menurut hisab seperti yang dilakukan Muhammadiyah silahkan berpuasa karena masuk bulan baru.
Sementara dari Pemerintahan, itu hisab dengan rukyat digabung dan dikombinasikan jadi banyak faktor pertimbangan tidak hanya dari hisab saja, tapi rukyat juga kelihatan atau tidak kalau kelihatan berarti cocok. "Kalau gak yah kita melakukan observasi dan diskusi lagi dalam sidang isbat sehingga menghasilkan dan diputuskan waktu untuk puasa. Besok kita akan lakukan pemantauan lagi," tandasnya.
Editor: Maruly Z