Insiden kecelakaan di perairan memiliki banyak dimensi. Kejadian orang jatuh ke air lalu kemudian tewas tenggelam atau sebab lain, menandakan mulai karena dari tidak bisa berenang, tidak mengenakan alat keselamatan seperti pelampung atau jaket penyelamat, hingga ketidaktaatan pada prosedur. Karena KPP dan Basarnas meminta kerjasama semua pihak untuk mengingatkan dan mengampanyekan keselamatan di perairan.
Banyak peristiwa itu berawal dari kelalaian dan kealpaan yang kalau sebelumnya diingatkan, mungkin sekali tidak akan terjadi. Misalnya kalau berada di dek terbuka kapal tunda, mesti wajib mengenakan jaket keselamatan.
Pemancing yang menggunakan perahu kecil harus memakai rompi keselamatan meskipun memancing di perairan yang tenang seperti Teluk Balikpapan.
Sepanjang tahun 2023 ini saja hampir setiap pekan Basarnas harus mengerahkan anggota dan peralatannya untuk mencari orang yang jatuh dan tenggelam di berbagai perairan dan berbagai sebab kejadian.
Pekan lalu misalnya, warga Sungai Kunjang Samarinda menemukan sesosok mayat mengapung di Sungai Mahakam di ruas tersebut. Mayat itu ditemukan tanpa identitas.
Pekan sebelumnya lagi, orang hilang di perairan Selat Makassar di antara Teluk Balikpapan hingga Delta Mahakam. Pernah pula nelayan dan pemancing dari Penajam atau dari Manggar hilang bahkan berikut perahunya.
Dari evaluasi gelar pelaksanaan pencarian dan pertolongan di perairan tersebut, maka Basarnas mencatatkan akan kebutuhan pada peralatan atau kendaraan jetski dan penambahan personel.
Basarnas Balikpapan memiliki 102 personel. Mereka ada di Balikpapan, Samarinda, Sangatta-Kutai Timur, dan Tanjung Redeb-Berau.
Saat ini mereka mengoperasikan Kapal Negara (KN) Wisanggeni, perahu karet Rubber Boat (RB) 408 yang disiagakan di Pelabuhan Somber di Balikpapan. Ada juga Rigid Inflatable Boat alias speedboat yang disebar di Balikpapan, Berau dan Kutai Timur.
Editor: Aspian Nur