Api mendadak muncul beberapa saat setelah sepeda motor diketahui milik seorang pemulung itu diparkir didepan Kantor Kecamatan Balikpapan Barat.
Saksi di lokasi kejadian menyebutkan, api pertama kali terlihat pada sisi kanan motor.
"Motor biasa parkir didepan Kantor Kecamatan, pemulung yang punya itu,"kata Petugas Jaga Kantor Camat Masrani kepada Korankaltim.com siang tadi.
Warga yang melihat kejadian saat itu pun berupaya memindahkan sepeda motor dengan nomor polisi KT 4484 ZS tersebut agar tak menyambar kendaraan lainnya.
Pasalnya, saat kejadian berlangsung didekat kendaraan tersebut ada dua unit mobil yang juga sedang terparkir.
Sementara sejumlah warga lainnya yang berada dilokasi kejadian mengambil sejumlah peralatan seperti ember dan gayung untuk menyiram kendaraan tersebut agar api tak membesar. Namun, sayang upaya warga saat itu belum membuahkam hasil hingga akhirnya tim pemadam pun tiba di lokasi kejadian.
"Tinggal tersisa timbangan aja itu, motornya habis sisa kerangka. Sudah coba dipadamkan juga sama warga tapi api tetap membesar. Baru padam pas PMK tiba disini (Kantor Kecamatan),"ungkapnya.
Katung, pemilik sepeda motor itu syok begitu mengetahui motor satu-satunya terbakar dan hanya tersisa kerangka saja. Motor itu sebelumnya ia parkir didepan Kantor Kecamatan.
Saat itu pria 52 tahun ini sengaja mampir kekawasan itu untuk menemui rekannya yang rumahnnya tak jauh dibelakang Kantor Kecamatan Balikpapan Barat.
Motor yang dibawanya pun saat itu kosong karena memang Katung baru keluar dari rumah saat itu. "Mau pinjam uang sebentar keteman dibelakang kantor camat ini," kata Katung.
Setelah selesai bertemu rekannya itu. Katung berencana untuk keliling mencari botol plastik bekas, besi tua dan karton. Namun nahas Katung justru mendapati sepeda motornya ludes saat itu.
Ia pun tak bisa berbuat banyak, motor satu-satunya yang sehari-hari digunakan untuk mencari nafkah itu kini tak bisa lagi berfungsi.
"Tidak tahu lagi ini mau kerja pake apa nanti, saya tinggal dulu aja kendaraan disini pulang naik angkot," ucapnya dengan nada sedih.
Editor: Aspian Nur