Ahmad Rauf, mahasiswa semester 7 jurusan ilmu hadis di International University of Africa, menceritakan pengelamannya saat berada ditengah konflik Sudan. Bahkan pemuda 26 tahun itu yang baru sepekan tinggal di Sudan mengatakan, situasi di Sudan telah memanas namun saat itu hanya antara pemerintah dan massa demonstrasi.
Rauf masih ingat betul situasi perang yang dia alami bersama puluhan warga Indonesia lainnya di Sudan saat itu. Pecahnya konflik di Sudan itu terjadi pada 15 April 2023, sepekan jelang Idulfitri 1444 Hijriyah.
Situasi di Sudan saat itu pun langsung mencekam. Desingan peluru serta suara kendaraan perang antara Angkatan Bersenjata Sudan (ASF) dengan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) terus menghantui masyarakat yang berada tak jauh disekitaran lokasi perang.
Beruntungnya saat konflik itu terjadi, jaringan internet di kampus Rauf tempatnya menimba ilmu tak terganggu. Sehingga dia bersama 70an warga asal Indonesia baik mahasiswa maupun TKW masih bisa terhubung dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Mereka saat itu langsung dikumpulkan oleh pihak KBRI ke satu lokasi aman di Sudan.
Proses evakuasi pun dilakukan dengan tiga tahap, mereka diberangkatkan dengan delapan mobil kelokasi aman yang berada di Port Sudan dengan menempuh 12 jam perjalanan darat. "Setelah disana, kami bermalam empat hari," kata Rauf kepada Korankaltim.com Jumat (5/5/2023).
Sebelum dievakuasi, situasi kampusnya saat itu berada persis ditengah-tengah konflik. Kampus tempatnya menempuh pendidikan langsung sepi, pasalnya posisi kampus Rauf saat itu berada dibelakang markas tentara RSF yang hanya berjarak 20an kilometer persegi. Beruntung saat itu tak satupun dari mahasiswa maupun tkw asal Indonesia menjadi korban peperangan di Sudan.
"Disekitar lokasi kampus itu perang semua. Baku tembak sekitar kampus, peluru berseliweran di atas," ungkap Rauf.
Empat hari di Port Sudan, mahasiswa dan tenaga kerja Wanita asal Indonesia pun diberangkatkan ke Jeddah melalui jalur laut dengan menyebrangi laut merah. Kehadiran mereka di Jeddah pun disambut langsung Konsulat Jendral Republik Indonesia, disana mereka bermalam selama tiga hari sebelum akhirnya kembali ke tanah air dengan menggunakan pesawat Garuda.
"Harapannya bisa kembali ke Sudan untuk melanjutkan pendidikan, karena sudah semester 7 jurusan ilmu hadis. Kalau pun tidak ada kesempatan lagi mungkin akan lanjut di sini," ucap Rauf.
Editor: Aspian Nur