"Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030, khususnya di sektor utama yaitu kehutanan, energi, industri dan migas. Bahkan pada KTT G20 di Bali, negara anggota juga sepakat mendorong transisi energi global dari penggunaan energi baru terbarukan dari fosil menuju energi terbarukan,"papar Kepala Pusat Riset Politik BRIN Athiqah Nur Alami disela kegiatan Rabu (23/11/2022).
Dalam proses itu kata Athiqah negara anggota KTT G20 juga harus mempertimbangkan keadilan ditingkat masyarakat, baik dalam konteks ekonomi sosial, maupun lingkungan.
"Namun demikian di tengah komitmen yang kami upayaka untuk mencapai target penurunan emisi dan juga transisi energi berkelanjutan tersebut, perlu adiakui bahwa Indonesia masih dihadapkan tantangan demografi,"urainya.
Faktor penghambat menurutnya masih tingginya angka kematian ibu dan bayi serta masih ada penduduk kumuh di area perkotaan. Selain itu Indonesia dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan belum sepenuhnya mencapai target yang diharapkan.
"Kalau dilihat hasil kaji cepat sejumlah organisasi masyarakat sipil secara umum masih melihat capaian SDGs Indonesia 2022 ini masih dalam kategori kemajuan rendah capaian SDGs Indonesia tahun 2022 masih berada pada peringkat ke 82 dari 163 negara dan khususnya di sektor energi yang bertujuan menuju SDGs,"jelasnya.
Dikatakan Athiqah Pemerintah dinilai masih kurang ambisus dalam menurunkan emisi gas karbon dan memenuhi transisi baru terbarukan dan dalam upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
"Di tengah tantangan tersebut kami merasa kajian mengenai pembangunan ekonomi yang dikaitkan dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia menjadi penting dilakukan, melalui riset kualitatif ini para periset baik dari para BPS maupun dari BRIN berupaya menggali inisiatif dan praktik ekonomi hijau berbasis tang telah dimasyarakat."katanya.
Harapan praktik berbasis tersebut kata Athiqah, dapat berpotensi tidak hanya dalam upaya mencegah penurunan kualitas lingkungan hidup, namun penurunan emisi gas rumah kaca.
"Dengan melakukan riset lapangan di 34 Provinsi di Indonesia para periset juga telah mendeteksi siapa saja aktor ditingkat lokal yang sesungguhnya berperan dan berkontribusi dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi namun di sisi lain tetap menjaga kelestarian lingkungan."jelasnya.
Dia juga menyinggung soal kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang juga sejalan dengan program BRIN. Di mana konsep pada kawasan IKN mengedepankan smart city, Green and forest city.
"Dalam konteks relokasi IKN saya yakin kajian tentang ekonomi hijau ini juga sangat relevan mengingat pembangunan IKN menggunakan konsep smart, green dan forest city. Diiharapkan IKN menjadi kota masa depan yang berkelanjutan dan memprioritaskan ekonomi hijau sebagai upaya pemulihan lingkungan hidup terkait dengan praktik ekonomi hijau di Kaltim,"tandasnya.
Penulis : Yudi Hadi
Editor : Rusdi