"Yang pasti (hemat) harga. Biasa kami mengeluarkan 4 sampai 5 tabung, dikali Rp35 ribu kalau langka. Ini hanya iuran Rp10 ribu," kata Nurlita, selaku Sekretaris Kelompok Gas Methane kepada Korankaltim.com Jumat (22/7/2022) hari ini.
"Kalau pakai elpiji hanya satu kompor. Rerata dalam satu rumah ada dua kompor. Kalau satu kompor dua mata, berarti ada empat mata. Sangat hemat sekali," sambungnya.
Kelompok Gas Methane menjadi pengelola bahan bakar gas yang berasal dari sampah di TPAS Manggar. Gas metana tak cuma untuk kebutuhan ibu rumah tangga memasak di dapur.
Produk-produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) turut bermunculan. Salah satunya usaha katering, pembuatan kue dan mantau, mi ayam sampai produksi tahu tempe yang tak lagi menggunakan kayu bakar. "Menekan biaya produksi," sebut Nurlita lagi.
Kelompok rupanya turut memberikan layanan tanpa biaya kepada sekitar 10 KK. Tak ditarik iuran setiap bulan. Tentunya dengan kriteria khusus. "Warga lanjut usia, janda tak berpenghasilan tetap, dan keluarga miskin yang iurannya kami gratiskan," bebernya.
Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) TPAS Manggar, Muhammad Haryanto menyebut pengolahan sampah menjadi gas metana merupakan kerja sama dengan Subholding Upstream PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). "Awalnya warga takut memanfaatkan gas metana untuk memasak," kata Haryanto.
Kekhawatiran itu menjadi wajar karena gas metana dihasilkan dari sampah. Warga takut timbul bau tidak sedap sampai risiko kebakaran atau pun meledak.
"Tapi seiring berjalan waktu dan sosialisasi dari PHM dan kami, akhirnya mereka mau mencoba, dan sekarang banyak warga yang minta disambungin," jelas Haryanto lagi.
Head Communication Relations and CID PHM, Frans Alexander A Hukom menambahkan, program merupakan inisiasi pihaknya dengan TPAS Manggar.
"Waktu itu kami melihat adanya sumber gas dari timbunan sampah yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat," ujarnya menjelaskan.
Program ini dinamakan Waste to Energy for Community (Wasteco), dimulai pada 2018 secara berkesinambungan setelah melihat potensi gas metana. Di mana pada 2019, dibuat sambungan gas memakai pipa untuk rumah warga.
"Tahun ini kami harapkan sudah mencapai 300 sambungan ke rumah-rumah masyarakat di sekitar," inginnya dan target 100 sambungan hingga akhir 2022.
Untuk diketahui, TPAS Manggar memiliki luas 45 hektare dengan volume sampah sebanyak 132,182 ton per tahun, dan gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah di landfill adalah 2.261.253 meter kubik per tahun.
Dari potensi itu dimanfaatkan sekitar 462.680 meter kubik per tahun. Disalurkan melalui pipa paralon dari sumber hingga ke rumah warga dengan panjang sekira 6.640 meter.
Penerapan metode Wasteco yang sudah divalidasi melalui Surat Keputusan Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan Nomor 188.46/155/DLH, mampu menggerakan 10 UMKM dan 10 warung methane bisnis rumah tangga.
Sedangkan 277 KK yang rumahnya tersambung aliran gas metana bisa menghemat penggunaan 7.200 tabung LPG 3 Kg dalam satu tahun. Apabila dikonversi ke mata uang menjadi hemat Rp180 juta per tahun sebagai biaya memasak di rumah.
Program Wasteco memanfaatkan energi terbarukan bertujuan untuk mengatasi dampak pemanasan global (global warming) karena dapat mengurangi emisi gas rumah kaca 181.145 CO2eq per tahun.
Penulis: Hendra
Editor: Aspian Nur