Karena teknologi otomotif apapun mereknya ketika menghadapi menurun panjang maka dia tidak boleh menggunakan gigi tinggi.
"Pengemudi harusnya menggunakan gigi rendah untuk mendapatkan porsi yang maksimal. Jadi porsi di kendaraan itu ada dua, nanjak dan turunan. Bentuknya adalah engine break, dan kemudian dibantu dengan ekstra break. Dengan demikian pada saat turun dia gak perlu ngerem karena yang menahan. Sehingga resiko rem blong menjadi kecil," ujarnya kepada awak media.
Artinya, lanjut dia terangkan, penyebab kecelakaan itu adalah kegagalan pengemudi dalam mengantisipasi jalan yang substandar turunan panjang yang seharusnya menggunakan gigi rendah untuk mendapatkan porsi. Akan tetapi yang digunakan adalah gigi tinggi.
"Karena menggunakan gigi tinggi, otomatis ngerem -ngerem, padahal itu yang dilarang oleh otomotif. Jangan ngerem di jalan menurun. Karena itu kerjaan yang tidak pernah selesai. Ketika selalu ngerem ada tiga dampak yang ditimbulkannya, kampas panas, angin tekor dan minyak rem panas. Ketiga hal ini penyebab rem blong," terangnya.
Oleh karena dalam kesempatan tersebut dirinya menyampaikan terdapat empat rekomendasi yang telah diterbitkan KNKT. Pertama adalah, dengan memisahkan lalu lintas, karena ketika lalu lintas tinggi dan bercampur antara kendaraan barang dengan kendaraan bisa, maka resiko fatalitas menjadi tinggi.
"Balikpapan itu sekitar 80 persen perbukitan sehingga resiko kecelakaan kendaraan barang itu tinggi ketika bercampur dengan kendaraan lain maka resiko fatalnya tinggi. Ya harus dipisahkan kendaraan barang harus beroperasi ketika low traffic," jelasnya.
Selain itu yang kedua yakni, dia meminta para pengemudi juga harus diberikan edukasi, karena kecelakaan ini terjadi akibat pengemudinya tidak paham terkait teknologi sistem rem. Pada saat kecelakaan sebenarnya remnya tidak masalah tapi pengemudinya yang tidak mengerti.
Lalu, yang ketiga, ketika mengatur kendaraan barang itu tidak boleh masuk, pemerintah juga harus menyediakan fasilitas yakni dengan membuat spot center atau penampungan sementara sebelum masuk ke Kota Balikpapan yang sudah dilengkapi dengan sejumlah fasilitas diantaranya SPBU, rest area dan sebagainya.
"Dan yang keempat adalah kepada kementerian perhubungan, self explaining road, terkait kira-kira apa yang harus diingatkan, seperti harus menggunakan gigi rendah ataupun rambu dan sebagainya," jelasnya.
Dia terangkan, pihaknya membuat rekomendasi tidak bersifat spot, bagaimana kejadian kecelakaan ini tidak terjadi lagi di seluruh kota Balikpapan.
Oleh karenanya pihaknya mencoba kendalikan penyebabnya seperti yang ia sampaikan membuat spot center serta memberikan edukasi kepada masyarakat, kepada pengemudi dan sebagainya.
"Kebijakan Ini diharapkan dapat mengeluarkan resiko serta fatalitas, hingga kecelakaan itu dapat dihindari," pungkasnya.
Penulis: Laeko
Editor: Supiansyah