Dua wilayah yaitu Kalimantan-Sulawesi (Kalsul) memiliki potensi yang tak terpisahkan dalam industri hulu migas nasional, terutama komoditas gas. Dengan masih tingginya potensi cadangan gas di wilayah Kalsul tersebut diharapkan dapat membantu SKK Migas mencapai target yang diinginkan.
Blok Mahakam mencatatkan sejarahnya sebagai blok gas pertama di Tanah Air yang berhasil menembus pasar ekspor di era 1970-an untuk pertama kalinya dan terus berproduksi hingga kini.
Demikian pula dengan Blok Matindok di Sulawesi Selatan. Keberadaan blok-blok migas di kedua wilayah tersebut mengubah lanskap Kalimantan dan Sulawesi yang kini tumbuh maju. Ini lah contoh konkret yang menggambarkan bagaimana peran industri migas terhadap pembangunan suatu wilayah.
“Kedua wilayah ini masih menyimpan potensi migas yang besar. Ini merupakan kesempatan bagi industri nasional untuk menjadi raja di negeri sendiri dalam mensupport keberadaan sektor hulu, yang di sisi lain juga turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, pemerintah daerah sekaligus APBN,” kata Fatar kepada Korankaltim.com.
SKK Migas dan KKKS terus melakukan program pengembangan masyarakat dalam bentuk peningkatan kapasitas dan pendampingan usaha untuk meningkatkan daya saing pemasok nasional atau improvement of national supplier competitiveness.
Dengan demikian masyarakat di wilayah operasi dapat memenuhi kualifikasi dan standarisasi kegiatan usaha di sektor penunjang migas.
Sementara Gubernur Kaltim Isran Noor menambahkan, industri hulu migas di Kalimantan Timur telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian masyarakat daerah.
Dia mencontohkan Bontang yang dulu hanya didominasi oleh rawa, kini tumbuh pesat menjadi tujuan wisata. Banyak masyarakat sekitar yang tumbuh maju melalui usaha-usaha binaan di bawah SKK Migas dan KKKS sehingga menggerakkan roda perekonomian daerah.
“Program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh industri hulu migas sangat membantu Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam membangun daerah dan memajukan masyarakat sekitar kami,” kata Isran.
Penulis: Laeko
Editor: Aspian Nur