Tangan dinginnya mampu menghidupkan berbagai jenis pohon langka yang ditanam di lahan seluas 20 hektar miliknya di kawasan Jalan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Lokasinya hanya berjarak 600 meter tepat dari Gerbang Tol Samboja.
Hutan buatan yang dirintis sejak tahun 1996 ditanami lima jenis pohon seperti Jati, Sungkai, Ulin, Agatis serta Eboni dan ratusan pohon yang ditanam kini menjulang tinggi menantang langit.
"Awalnya ini lahan gundul saya hijaukan dengan sistem tumpang sari dulu, sekarang pohonnya besar Alhamdulillah jadi seperti hutan ini tapi ini dulu gundul dan gersang," kata Suwaji saat ditemui Korankaltim.com Selasa (1/2/2022) hari ini.
Berbekal dari kegemaran bercocok tanam ditambah dengan keilmuan yang lama bergelut dalam bidang konservasi menjadi tantangan tersendiri untuk dapat menghijaukan lahan tandus.
"Sekitar tahun 1996 saya mulai rintis hutan buatan ini ada 5 hektar kalau semuanya 20 hektare. Kebetulan memang saya lama bekerja di bidang konservasi jadinya tertarik suka tanam pohon," jelas kakek satu cucu ini.
Bibit pohonnya pun didapat dari hasil persemaian sendiri, kendati dalam kesibukannya bekerja, ia tetap melewatkan waktu untuk merawat bibit berbagai jenis itu. Kini ia merasa bangga sekaligus menjawab tantangan para peneliti bahwa lahan di Kalimantan sukar ditanami pohon Jati.
"Bagaimana rasanya punya pohon saya bangga sekali, bukan nilainya ya tapi kebanggan dapat menanam tumbuhan yang ditanam. Katanya lahan di sini sulit untuk tumbuh Jati, namun bisa dilihat pohon jati sudah tumbuh besar dan rindang," sebut Suwaji.
Bahkan kawasan hutan buatan itu, sudah dilirik oleh berbagai pihak mulai dari pengembang properti kenamaan seperti Agung Podomoro kepincut. Bahkan kalangan artis Raffi Ahmad pun ingin meminang lahan hutan buatan miliknya.
"Ya seperti Agung Podomoro, ada yang bilang utusan Raffi Ahmad saya juga tidak tahu tapi dia bilang seperti itu aja (ingin membel)," ungkapnya lagi.
Namun Suwaji tidak tertarik dengan tawaran rupiah yang nilainya fantastis. "Ya kalau saya memang gak ada niatan untuk dijual akan saya rawat sampai tua dan akhir hayat jadi memang gak akan saya lepas. Jadi memang kalau nanti sudah jadi Ibu Kota hidup ditengah ibu Kota masih ada hutan," tegasnya.
Dia menginginkan jejaknya dapat ditiru oleh masyarakat lain untuk dapat menanam tumbuhan. Pelbagai cara dilakukannya dengan berbuat dan menunjukan fakta bukan sekadar retorika semata.
"Saya mengajak masyarakat dengan pembuktian dan fakta, kalau sudah ada bukti dan fakta tentu masyarakat bisa menilai bukan hanya teori. Saya kira orang datang ke sini bisa termotivasi jadi semangat," ujar Suwaji.
Pria yang pernah terjun di dunia politik dan menjadi legislator dua periode di Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara ini memulai menanam hutan buatan dengan cara tumpang sari. Di mana ada hasil yang dapat dinikmati setiap harinya.
"Pesan kepada masyarakat sebetulnya kalau kita mengajak kalau dapurnya gak ngebul ya sulit juga tapi bagaimana kita merawat hutan tapi ada penghasil yang lain. Kita pelihara hutan tapi bisa hidup, contohnya kalau kita pelihara hutan tapi dapur kita gak ngebul ya sulit maka pola yang dilakukan adalah dengan tumpang sari jadi begini, dulu ada jagung ada pepaya, pare dan kita harus bagaimana caranya menggerakkan ekonomi kita," pungkas Suwaji.
Penulis: Yudi Hadi
Editor: Aspian Nur