"Sudah terlihat lebih sehat seperti anak lainnya, sudah lumayan. Kalau ada trauma wajar tapi tidak terlalu dalam sudah bisa diajak bicara," kata Esti kepada korankaltim.conRabu (7/7/2021) siang saat ditemui di kantornya. Ditanya terkait siapa yang membawa bocah tersebut selama sepekan, Esti enggan membeberkan lantaran menjadi kewenangan penyidik kepolisian.
"Kami tidak bisa menjelaskan apa yang dikatakan adek ini karena masuk ranah penyidikan kami akan menyampaikan kepada penyidik. Selama seminggu dia bilang jalan- jalan," ungkapnya. Untuk proses konseling lanjut Esti tidak dapat diprediksi berapa lama yang akan dibutuhkan mengingat masih anak-anak sehingga lebih banyak bermain.
"Jadi perlu waktu untuk dilakukan asesmen atau konseling untuk lebih mengetahui karena lebih banyak bermain apalagi usia masih anak- anak sekali masih belum tahu dan belum bisa memberikan jawaban seperti apa,"ujarnya. Untuk proses konseling setiap korban berbeda-beda tergantung dari usia dan kondisi mental korban.
"Kadang-kadang ditanya dia masih main masih perlu didampingi konseling atau asisten lagi. Kita tidak bisa memastikan berapa kali konseling, kita harus melihat bagaimana selanjutnya jadi kami tidak bisa memastikan berapa kali. Karena setiap anak berbeda-beda untuk mengungkapkan apa yang terjadi pada dia. Dia harus percaya dulu siapa yang bertanya baru dia mengungkapkan seperti apa,"papar Esti.
Selain Zahra, ibunya juga dilakukan konseling pasalnya juga terjadi trauma yang mendalam dikarenakan ditinggal orang terdekat dalam waktu lama. "Ibu korban juga perlu dilakukan pendampingan itu manusiawi ketika orangtua anaknya tidak ada selama seminggu pasti dimana pun rasa kehilangan sedih pasti ada, kami juga lakukan pendampingan,"tutup Esti.
Penulis: Yudi Hadi
Editor: Aspian Nur