Mulai pengabdian di klinik Lapas pada Januari 2021 lalu. Diawali dengan masa orientasi selama satu bulan. Takut dan khawatir sebuah keniscayaan karena memasuki tempat warga binaan dengan berbagai catatan kejahatan.
"Ternyata setelah dijalani, orangnya baik-baik, tidak seperti pemikiran orang luar, ya galak lah, jahatlah. Mereka sama seperti lainnya, punya hati meski dulu pernah berbuat jahat. Di sini mereka dibina untuk jadi lebih baik," tuturnya mengisahkan.
Yuni sempat ingin mengundurkan diri karena sebelumya pernah merasa nyaman bekerja di rumah sakit. Namun malah mendapat penugasan di Lapas setelah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).
"Orangtua (malah) dukung (tugas di lapas). Kebetulan ibu seorang nakes yang pernah diperbantukan pada klinik di penjara," ungkapya dan Yuni sudah menikmati pengabdian yang dia jalani. "Sudah menerima, takdir saya emang di sini," tuturnya.
JADI TEMPAT CURHAT NAPI
Sedendang seirama, perasaaan yang sama juga menjalari Deborah Christi Sinaga, dokter kelahiran Pontianak 17 Januari 1993 dan lulusan Universitas Methodist Medan Medan pada 2016 silam.
"Deg-degan banget karena kan saya perempuan. Ternyata setelah dijalani hampir sama saja. Tetap dokter dengan pasien," kata gadis berparas tonggi (manis, bahasa Batak) ini.
dr. Deborah pernah merasakan tugas di RS OMNI Cikarang Bekasi. Penugasan ke Lapas Klas IIA Balikpapan tetap ia jalani. Menghadapi berbagai karakter warga binaan memang butuh mental yang mumpuni.
"Bulan lalu ada napi ingin periksa kesehatan, tapi tetiba mukul meja, ya saya cuma bisa terdiam lalu manggil teman-teman yang lain. Ada juga yang datang sedih, nangis, nanti curhat hampir setengah jam, ya saya dengarin," imbuhnya.
Dirinya memahami karena merasakan badan terkurung cukup lama. Apalagi kunjungan dibatasi sejak pandemi Covid-19. "Banyak yang merasa pusing tapi diperiksa tanda-tanda vital dan fisik, semua normal. Kami pancing, akhirnya cerita kangen rumah, kangen anak. Jadi konseling, merangkap segalanya," kisah Deborah.
Penulis: Hendra
Editor: Aspian Nur