Kondisi ini menjadi alasan utama yang membuat banyak peserta didik tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar jarak jauh dengan optimal. Alih-alih menerapkan metode daring.
Ketua Biropora Senkom Mitra Polri Kaltim, Agus Wijayanto menyarankan penggunaan jaringan radio amatir sebagai sarana pembelajaran jarak jauh.
"Di daerah tertentu bisa memakai radio amatir seperti Handy Talky (HT) atau radio rig sebagai alternatif agar semua siswa dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar jarak jauh dengan baik," kata Agus Wijayanto, Rabu (29/7/2020).
Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018, terlihat penduduk Kaltim baru 32,2% yang sudah mengakses jaringan internet.
"Dari data ini pasti ada imbas dan kendala dalam proses belajar mengajar jarak jauh berbasis internet yang telah diterapkan saat ini. Maka jangan terpaku dengan aplikasi Zoom atau WhatsApp videocall," ujarnya.
Radio merupakan alat komunikasi jarak jauh tertua di dunia. Dapat digunakan dimana saja dengan operasi yang sederhana. Bahkan tidak terganggu dengan naik turunnya sinyal provider jaringan dan tanpa harus membeli kuota yang mahal.
"Jika jangkauan perlu diperluas, tinggal menambah repeater agar daerah yang belum terjangkau oleh frekuensi radio bisa mendapatkan sinyal. Biaya untuk membeli alat komunikasi radio juga tergolong murah, hanya dengan Rp200 ribu hingga Rp700 ribu sudah bisa dapat yang baru," tambahnya.
Menurutnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bisa berkolaborasi dengan Kominfo terkait frekuensi radio yang dapat digunakan. Namun jika jangkauan tidak terlalu jauh bisa menggunakan sarana radio genggam Walkie Talkie.
"Itu tidak memerlukan izin Kominfo dengan jarak jangkauan 2 km," sambung pria yang juga Kepala Badan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat (BBHAR) Kota Balikpapan.
Penulis: Hendra
Editor: Desman Minang