Perjalanan menuju podium tertinggi di Kota Balikpapan itu tidak diraih dengan mudah. Tim futsal Pokja PWI Samarinda harus melewati serangkaian pertandingan sengit sejak fase grup hingga partai final.
Pada babak penyisihan grup, Samarinda mengawali langkah dengan kemenangan telak 7-1 atas Bontang. Tren positif berlanjut ketika menghadapi Penajam Paser Utara (PPU), dengan kemenangan meyakinkan 11-2.
Memasuki fase gugur, tantangan semakin berat. Samarinda harus berhadapan dengan tuan rumah Balikpapan. Meski mendapat tekanan dari tim lawan, para pemain berhasil mengamankan kemenangan tipis 3-2 sekaligus memastikan tiket ke partai final.
Di laga puncak, Samarinda bertemu Berau dalam pertandingan yang berlangsung ketat. Kedua tim bermain imbang 4-4 hingga waktu pertandingan berakhir. Penentuan juara pun harus dilanjutkan melalui adu penalti.
Dalam babak tersebut, mentalitas dan ketenangan pemain Samarinda menjadi pembeda. Mereka akhirnya menang dengan skor 3-2 sekaligus memastikan medali emas ketiga bagi tim futsal Pokja PWI Samarinda.
Koordinator Futsal Pokja PWI Samarinda Suriyatman mengatakan, keberhasilan tersebut merupakan buah dari kekompakan tim serta persiapan yang terus dilakukan. Perpaduan pemain senior dan tambahan pemain baru juga menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi persaingan.
“Alhamdulillah, kami kembali bisa mempertahankan emas ketiga. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi seluruh tim. Perjalanan tidak mudah, apalagi di final harus melalui adu penalti. Namun, berkat kerja sama dan semangat seluruh pemain, kami bisa kembali membawa pulang medali emas,” ujarnya saat diwawancarai Korankaltim.com pada Jum’at (6/11/2026).
Namun, di balik kemenangan tersebut, ada sosok yang secara khusus menjadi tujuan dedikasi prestasi kali ini. Suriyatman menyebut medali emas tersebut dipersembahkan untuk almarhum Dicky Zulkarnaen, sahabat sekaligus bagian penting dalam perjalanan tim futsal jurnalis Samarinda.
Menurutnya, Dicky memiliki peran besar dalam perkembangan tim. Semasa hidup, pria yang akrab disapa Paman itu kerap mencarikan lawan untuk pertandingan uji coba sehingga kemampuan dan kekompakan tim terus berkembang.
“Kemenangan ini kami dedikasikan untuk sahabat kami, Dicky Zulkarnaen. Beliau menjadi salah satu motivasi kami untuk terus mempersiapkan tim futsal jurnalis Samarinda. Dulu beliau sering mencarikan tim untuk latih tanding, sehingga tim ini bisa berkembang dan menjadi lebih baik seperti sekarang,” ungkapnya.
Suriyatman mengaku kehilangan sosok Dicky bukan hanya sebagai rekan satu tim, tetapi juga sahabat dan panutan bagi para jurnalis muda di Samarinda. Di lapangan, Dicky dikenal sebagai penyerang tangguh yang selalu memberikan kontribusi bagi tim.
“Kami sangat kehilangan beliau. Selain dikenal sebagai penyerang yang tangguh, Paman juga sosok panutan bagi jurnalis-jurnalis junior di Samarinda. Semoga prestasi ini menjadi bentuk penghormatan kami atas segala dedikasi dan kebersamaan yang pernah beliau berikan,” tutupnya.
Editor: Erwin
Perjalanan menuju podium tertinggi di Kota Balikpapan itu tidak diraih dengan mudah. Tim futsal Pokja PWI Samarinda harus melewati serangkaian pertandingan sengit sejak fase grup hingga partai final.
Pada babak penyisihan grup, Samarinda mengawali langkah dengan kemenangan telak 7-1 atas Bontang. Tren positif berlanjut ketika menghadapi Penajam Paser Utara (PPU), dengan kemenangan meyakinkan 11-2.
Memasuki fase gugur, tantangan semakin berat. Samarinda harus berhadapan dengan tuan rumah Balikpapan. Meski mendapat tekanan dari tim lawan, para pemain berhasil mengamankan kemenangan tipis 3-2 sekaligus memastikan tiket ke partai final.
Di laga puncak, Samarinda bertemu Berau dalam pertandingan yang berlangsung ketat. Kedua tim bermain imbang 4-4 hingga waktu pertandingan berakhir. Penentuan juara pun harus dilanjutkan melalui adu penalti.
Dalam babak tersebut, mentalitas dan ketenangan pemain Samarinda menjadi pembeda. Mereka akhirnya menang dengan skor 3-2 sekaligus memastikan medali emas ketiga bagi tim futsal Pokja PWI Samarinda.
Koordinator Futsal Pokja PWI Samarinda Suriyatman mengatakan, keberhasilan tersebut merupakan buah dari kekompakan tim serta persiapan yang terus dilakukan. Perpaduan pemain senior dan tambahan pemain baru juga menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi persaingan.
“Alhamdulillah, kami kembali bisa mempertahankan emas ketiga. Ini tentu menjadi kebanggaan bagi seluruh tim. Perjalanan tidak mudah, apalagi di final harus melalui adu penalti. Namun, berkat kerja sama dan semangat seluruh pemain, kami bisa kembali membawa pulang medali emas,” ujarnya saat diwawancarai Korankaltim.com pada Jum’at (6/11/2026).
Namun, di balik kemenangan tersebut, ada sosok yang secara khusus menjadi tujuan dedikasi prestasi kali ini. Suriyatman menyebut medali emas tersebut dipersembahkan untuk almarhum Dicky Zulkarnaen, sahabat sekaligus bagian penting dalam perjalanan tim futsal jurnalis Samarinda.
Menurutnya, Dicky memiliki peran besar dalam perkembangan tim. Semasa hidup, pria yang akrab disapa Paman itu kerap mencarikan lawan untuk pertandingan uji coba sehingga kemampuan dan kekompakan tim terus berkembang.
“Kemenangan ini kami dedikasikan untuk sahabat kami, Dicky Zulkarnaen. Beliau menjadi salah satu motivasi kami untuk terus mempersiapkan tim futsal jurnalis Samarinda. Dulu beliau sering mencarikan tim untuk latih tanding, sehingga tim ini bisa berkembang dan menjadi lebih baik seperti sekarang,” ungkapnya.
Suriyatman mengaku kehilangan sosok Dicky bukan hanya sebagai rekan satu tim, tetapi juga sahabat dan panutan bagi para jurnalis muda di Samarinda. Di lapangan, Dicky dikenal sebagai penyerang tangguh yang selalu memberikan kontribusi bagi tim.
“Kami sangat kehilangan beliau. Selain dikenal sebagai penyerang yang tangguh, Paman juga sosok panutan bagi jurnalis-jurnalis junior di Samarinda. Semoga prestasi ini menjadi bentuk penghormatan kami atas segala dedikasi dan kebersamaan yang pernah beliau berikan,” tutupnya.