Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Ketersediaan informasi kualitas udara menjadi hal mendasar bagi masyarakat, terutama saat ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda.
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Ketersediaan informasi kualitas udara menjadi hal mendasar bagi masyarakat, terutama saat ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda.
Namun upaya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda dalam menyajikan data saat ini terkendala terbatasnya sarana pemantau. Alat pemantau kualitas udara milik DLH Samarinda di Jalan Harmonika, Taman Segiri yang merupakan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup saat ini sedang dalam masa pemeliharaan (maintenance).
Sebagai solusi sementara agar pasokan data tidak terputus, DLH menggandeng UPTD Laboratorium Kesehatan (Labkes) Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki stasiun pemantau di Jalan KH Ahmad Dahlan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) DLH Samarinda Tri Ayu Wulandari menjelaskan, sinergi ini dimanfaatkan untuk memperbarui data kualitas udara secara berkala sebanyak dua kali sehari, yakni pukul 07.00 dan 16.00 WITA. "Alat yang ada di Taman Segiri saat ini tidak berfungsi karena pemeliharaan. Jadi data yang kami berikan itu berdasarkan pemantauan Labkesda Kaltim," kata Tri Ayu.
Meski stasiun pemantau milik Labkesda Kaltim memiliki jangkauan parameter yang lebih lengkap, keberadaan satu stasiun belum memadai untuk menggambarkan kondisi udara di seluruh wilayah Kota Tepian.
Kawasan padat dan industri seperti Kecamatan Palaran, misalnya, hingga kini belum tersentuh fasilitas Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Untuk memperoleh data yang lebih mewakili kondisi di berbagai wilayah, penambahan stasiun pemantau di sejumlah titik perlu dilakukan.
Pengadaan alat tambahan sebenarnya telah diusulkan DLH Samarinda untuk kebutuhan jangka panjang. Namun, rencana tersebut belum terealisasi lantaran membutuhkan anggaran besar, dengan harga alat mencapai ratusan juta rupiah per unit, di luar biaya pemeliharaan.
Realisasi tersebut belum dapat dipastikan karena kondisi fiskal daerah saat ini masih dalam keadaan efisiensi anggaran. "Memang kalau secara jangka panjang, kami sudah pernah mengajukan pengadaan," ucap Tri.
Kebutuhan akan alat pemantau yang memadai makin terasa mengingat tren kualitas udara di Samarinda dalam beberapa hari terakhir terus mengalami fluktuasi, bergerak dari kategori sedang hingga sempat menyentuh kategori tidak sehat.
Dinamika perubahan kualitas udara ini disebut tidak hanya dipengaruhi oleh kiriman asap karhutla, melainkan juga digerakkan oleh aktivitas lokal, arah angin, serta faktor cuaca yang memengaruhi penyebaran polutan di udara.
Atas dasar itulah, DLH Samarinda terus mendorong adanya dukungan agar pemantauan kualitas udara dapat dilakukan secara menyeluruh dan merata di setiap sudut kota. “Memang kalau mau bicara cakupan Samarinda harus keterwakilan di beberapa titik, dan ini perlu pembiayaan juga,” tutup Tri.
Editor: Aspian Nur
Namun upaya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda dalam menyajikan data saat ini terkendala terbatasnya sarana pemantau. Alat pemantau kualitas udara milik DLH Samarinda di Jalan Harmonika, Taman Segiri yang merupakan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup saat ini sedang dalam masa pemeliharaan (maintenance).
Sebagai solusi sementara agar pasokan data tidak terputus, DLH menggandeng UPTD Laboratorium Kesehatan (Labkes) Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki stasiun pemantau di Jalan KH Ahmad Dahlan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) DLH Samarinda Tri Ayu Wulandari menjelaskan, sinergi ini dimanfaatkan untuk memperbarui data kualitas udara secara berkala sebanyak dua kali sehari, yakni pukul 07.00 dan 16.00 WITA. "Alat yang ada di Taman Segiri saat ini tidak berfungsi karena pemeliharaan. Jadi data yang kami berikan itu berdasarkan pemantauan Labkesda Kaltim," kata Tri Ayu.
Meski stasiun pemantau milik Labkesda Kaltim memiliki jangkauan parameter yang lebih lengkap, keberadaan satu stasiun belum memadai untuk menggambarkan kondisi udara di seluruh wilayah Kota Tepian.

Kawasan padat dan industri seperti Kecamatan Palaran, misalnya, hingga kini belum tersentuh fasilitas Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Untuk memperoleh data yang lebih mewakili kondisi di berbagai wilayah, penambahan stasiun pemantau di sejumlah titik perlu dilakukan.
Pengadaan alat tambahan sebenarnya telah diusulkan DLH Samarinda untuk kebutuhan jangka panjang. Namun, rencana tersebut belum terealisasi lantaran membutuhkan anggaran besar, dengan harga alat mencapai ratusan juta rupiah per unit, di luar biaya pemeliharaan.
Realisasi tersebut belum dapat dipastikan karena kondisi fiskal daerah saat ini masih dalam keadaan efisiensi anggaran. "Memang kalau secara jangka panjang, kami sudah pernah mengajukan pengadaan," ucap Tri.
Kebutuhan akan alat pemantau yang memadai makin terasa mengingat tren kualitas udara di Samarinda dalam beberapa hari terakhir terus mengalami fluktuasi, bergerak dari kategori sedang hingga sempat menyentuh kategori tidak sehat.

Dinamika perubahan kualitas udara ini disebut tidak hanya dipengaruhi oleh kiriman asap karhutla, melainkan juga digerakkan oleh aktivitas lokal, arah angin, serta faktor cuaca yang memengaruhi penyebaran polutan di udara.
Atas dasar itulah, DLH Samarinda terus mendorong adanya dukungan agar pemantauan kualitas udara dapat dilakukan secara menyeluruh dan merata di setiap sudut kota. “Memang kalau mau bicara cakupan Samarinda harus keterwakilan di beberapa titik, dan ini perlu pembiayaan juga,” tutup Tri.
Editor: Aspian Nur











Pusat gempa berada di darat 153 km tenggara Oksibil
29 Okt 2026, 10:26:49 WIB • Kedalaman 120 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG