Terlebih, saat ini usia SKH Koran Kaltim yang telah menyentuh usia 20 tahun menjadikan perusahaan pers memiliki tanggung jawab dalam memberikan berita yang akurat dan mencerdaskan.
Pelatihan jurnalistik yang melibatkan puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Samarinda ini menjadi upaya mengenalkan dunia pers kepada generasi muda di tengah tantangan arus informasi yang semakin cepat.
Adapun peserta pelatihan berasal dari Universitas Mulawarman (Unmul), Universitas Widyagama Mahakam Samarinda, Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), Institut Teknologi Kesehatan Wiyata Husada Samarinda (ITKES WHS), Politeknik Negeri Pertanian (Politani) Samarinda dan Politeknik Negeri Samarinda (Polnes).
Direktur Utama SKH Koran Kaltim, Anti Rahayu mengatakan bahwa pelatihan jurnalistik ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal proses kerja jurnalistik sekaligus memahami tanggung jawab media dalam menyampaikan sebuah informasi kepada masyarakat.
Ia beranggapan jika perkembangan teknologi saat ini membuat akses terhadap informasi semakin mudah. Namun, hal ini juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Maka dari itu, kemampuan memilah dan memeriksa informasi menjadi semakin penting.
“Menulis berita bukan tentang menyampaikan sebuah informasi, tetapi juga memastikan bahwa informasi itu akurat, berimbang dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya di sela-sela pelatihan berlangsung.
Selain menuntut akurasi data dan fakta, Anti Rahayu menilai kecepatan dalam menyampaikan berita harus tetap berjalan beriringan dengan proses verifikasi dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.
Rahayu yang kerap disapa Ayu itu mengungkapkan mahasiswa memiliki potensi untuk berkontribusi dalam perkembangan dunia jurnalistik. Maka dari itu, pengenalan terhadap prinsip-prinsip pers perlu disampaikan agar generasi muda memahami perbedaan antara produk jurnalistik dan informasi yang beredar di berbagai platform digital.
Pada pelatihan ini menghadirkan tiga nara sumber dengan pengalaman di bidang jurnalistik dan pers.
Mereka adalah Pemimpin Redaksi SKH Koran Kaltim Sardiman, Pemimpin Redaksi Seputarfakta.com Rusdianto serta Ahli Pers Dewan Pers sekaligus Mantan Ketua PWI Kalimantan Timu Endro S Efendi.
Kehadiran para nara sumber yang telah berkecimpung di dunia pers ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada peserta tentang praktik jurnalistik, pengelolaan ruang redaksi serta etika dan profesionalisme dalam menjalankan kerja-kerja pers
Kendati demikian, Ayu mengatakan dalam nuansa HUT ke-20 SKH Koran Kaltim tidak hanya menjadi momentum untuk melihat perjalanan media tersebut, tetapi memperkuat kontribusi terhadap pengembangan sumber daya manusia di bidang jurnalistik.
“Kita berharap pelatihan ini tidak berhenti di sini, tetapi juga menumbuhkan minat mahasiswa untuk mendalami jurnalistik dan melahirkan generasi yang mampu menyampaikan informasi secara bertanggung jawab,” pungkasnya. (*)
Terlebih, saat ini usia SKH Koran Kaltim yang telah menyentuh usia 20 tahun menjadikan perusahaan pers memiliki tanggung jawab dalam memberikan berita yang akurat dan mencerdaskan.
Pelatihan jurnalistik yang melibatkan puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Samarinda ini menjadi upaya mengenalkan dunia pers kepada generasi muda di tengah tantangan arus informasi yang semakin cepat.
Adapun peserta pelatihan berasal dari Universitas Mulawarman (Unmul), Universitas Widyagama Mahakam Samarinda, Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU), Institut Teknologi Kesehatan Wiyata Husada Samarinda (ITKES WHS), Politeknik Negeri Pertanian (Politani) Samarinda dan Politeknik Negeri Samarinda (Polnes).
Direktur Utama SKH Koran Kaltim, Anti Rahayu mengatakan bahwa pelatihan jurnalistik ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal proses kerja jurnalistik sekaligus memahami tanggung jawab media dalam menyampaikan sebuah informasi kepada masyarakat.
Ia beranggapan jika perkembangan teknologi saat ini membuat akses terhadap informasi semakin mudah. Namun, hal ini juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran informasi yang belum terverifikasi. Maka dari itu, kemampuan memilah dan memeriksa informasi menjadi semakin penting.
“Menulis berita bukan tentang menyampaikan sebuah informasi, tetapi juga memastikan bahwa informasi itu akurat, berimbang dan dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya di sela-sela pelatihan berlangsung.
Selain menuntut akurasi data dan fakta, Anti Rahayu menilai kecepatan dalam menyampaikan berita harus tetap berjalan beriringan dengan proses verifikasi dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.
Rahayu yang kerap disapa Ayu itu mengungkapkan mahasiswa memiliki potensi untuk berkontribusi dalam perkembangan dunia jurnalistik. Maka dari itu, pengenalan terhadap prinsip-prinsip pers perlu disampaikan agar generasi muda memahami perbedaan antara produk jurnalistik dan informasi yang beredar di berbagai platform digital.